Kiai Sugihanto Tak Henti Tanamkan Spirit Jamu, Jati dan Kendi

36

Kiai Sugihanto telah melanglangbuana dari satu masjid ke masjid lainnya. Ketua takmir Masjid Agung R. M. A. A. Tjokronegoro Ponorogo ini tak pernah lelah menyampaikan hikmah kebaikan kepada jamaah. Semua dilakoninya sejak masih memperdalam ilmu agama semasa muda di Surabaya.

———————

NUR WACHID, Ponorogo

KIAI SUGIHANTO selalu terjaga di sepertiga malam. Sebelum sahur, dia membiasakan diri menunaikan salat sunah. Setelahnya, baru melangsungkan makan sahur bersama keluarga. Begitu adzan subuh menggema, dia bergegas mengenakan pakaian muslim lengkap, sarung motif kotak-kotak dan atasan warna putih. Peci hitam dan sorban putih tak pernah ketinggalan. Di pagi buta yang masih dingin itu, dia menempuh perjalanan menuju salah satu desa di barat kota. ‘’Jadwal sudah disusun sesuai permintaan sebelum Ramadan,’’ kata mubaligh yang ditemui koran ini di ruang dosen IAIN Ponorogo, kemarin.

Sepi ing pamrih rame ing gawe menjadi pedoman hidup Kiai Sugihanto. Itu pula yang membuatnya tak pernah jauh dari masjid dan selalu dengan masyarakat. Di bulan puasa ini, waktunya padat untuk mengisi kajian keagamaan di masjid-masjid. Dalam sehari, sedikitnya mengisi pengajian di 11 masjid. Mulai kuliah shubuh hingga pengajian jelang berbuka di seluruh pelosok desa. Meskipun sudah tidak muda lagi, kakek delapan cucu ini tak pernah lelah menebar kebaikan. Padahal, aktivitasnya sehari-hari cukup padat. Dia tercatat sebagai dosen IAIN Ponorogo sejak 1979 hingga sekarang, Ketua Takmir Masjid Agung R. M. A. A Tjokronegoro Ponorogo, dewan pertimbangan MUI Ponorogo. ‘’Hidup di dunia ini harus bermanfaat untuk orang lain,’’ lanjut ulama kelahiran 1950 ini.

Daya tarik tersendiri dari sosok kharismatik yang tinggal di Jalan Kokrosono, Brotonegaran itu adalah cara penyampaiannya yang lugas dan sederhana. Sehingga begitu mudah diterima jamaah. Materi pengajiannya tidak terlepas dari ilmu tauhid. Berbagai cabang ilmu itu dia sederhanakan menjadi pengajian yang menarik. Personifikasi jamu (jaga mulut) jati (jaga hati) kendi (kendalikan diri) selalu disampaikan. Jamu dimaknai untuk menjaga lisan manusia agar selalu menyampaikan kebaikan dan kebenaran. Orang jawa mengenal jamu sebagai obat. Sehingga melalui pengajian itu dapat menjadi jamu bagi jamaah. ‘’Sederhana saja, karena jamaah itu beragam sehingga harus dapat menyampaikan yang dapat dipahami semua orang,’’ ungkap suami Umi Parwati itu.

Jati dimaknai menjaga hati agar terjauh dari penyakit hati. Sedangkan kendi dimaknai untuk mengendalikan diri dari perilaku yang hanya menuruti hawa nafsu. Tiga kata mulai jamu, jati, dan kendi itu diangkat lantaran sangat dekat dengan orang Jawa. Sehingga dengan tiga kata itu diharapkan mudah diingat warga agar selamat dunia akherat. Selain itu juga ada judul pengajian sederhana lainnya. Misalnya sedikit bicara banyak bekerja. Semua judul itu merupakan manifestasi dari pedoman hidup sepi ing pamrih rame ing gawe. Artinya, orang yang banyak diam tetapi banyak laku manfaatnya. Jargon itu telah dia jadikan panutan hidup sejak muda. ‘’Pertama diminta untuk mengisi pengajian ketika masih muda di Surabaya dulu,’’ kenangnya.

Kemampuan memberikan ceramah itu telah dia kuasai sejak mengisi masa mudanya di Surabaya. Di Kota Pahlawan itu, Sugihanto kecil pernah bersekolah dasar sebelum berpindah ke Ponorogo. Semasa SMP, dia kembali ke Surabaya. Namun saat G-30 S PKI meletus dia mengungsi ke Ponorogo 1965 silam. SMP-nya dia tamatkan di Ponorogo. Setelah itu kembali melanjutkan SMA di Surabaya hingga kuliah. Saat masih kuliah dia telah menjadi kepala sekolah di SMP Trisakti Tandes. Hasil jerih payah itu dia gunakan untuk membiayai kuliah Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya 1969-1978. ‘’Juga aktif di organisasi saat di Surabaya dulu,’’ tuturnya.

Selain itu, dia juga masuk dalam pengurus Koordinasi Masjid Surabaya. Kepadatan aktivitas itu tidak membuatnya berhenti belajar ilmu agama. Di sela waktunya, dia menyempatkan waktu belajar ilmu Quran dan tafsir ke Prof. Dr. Syafi’i Abdul Karim. Terhitung sejak 1971 hingga 1974. Tepat pada 1972, dia dipercaya mengisi pengajian di Masjid Rahmad, Kembang Kuning, Surabaya. Pengajian itu merupakan kali pertama bagi Sugihanto menyampaikan kajian. Dari situlah pemintaan mengisi pengajian terus berdatangan. Mulai Tandes, Perak, Sukolilo, Kampus ITS, Kampus Airlangga, hingga Juanda. Tepat 1978, dia kembali ke Ponorogo untuk mengabdikan diri sebagai putra daerah dan membawa manfaat bagi tanah kelahirannya. ‘’Intinya menjalankan ibadah jangan sampai karena ada api neraka dan pintu surga. Kalau seperti itu lebih baik bakar saja tubuh ini dengan api neraka dan pintu surga ditutup saja. Ibadah semata karena kita cinta Allah, sehingga Allah juga akan mencintai kita,’’ pungkasnya. *** (fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here