Kiai Farid, Antara Tugas Mengajar dan Mengasuh Ponpes

30

MADIUN – Kiprahnya tak hanya sebatas menjadi guru di MI Kresna. Kiai Farid Fathoni pun dituntut dalam mentransfer ilmu agamanya kepada santri-santrinya yang ada di Pondok Pesantren Darussalam, Desa/Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun.

Aktivitas mengajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kresna jadi rutinitas hariannya. Pria 33 tahun itu menjadi guru kelas III. Dialah kiai Farid Fathoni.

Namun, rutinitas pagi kiai Farid Fathoni sebenarnya bukan di sekolah itu. Melainkan semua berawal di pondok pesantren (ponpes) yang diasuhnya. Selepas subuh, dirinya bersama santri-santrinya mengaji kitab. ’’Ponpes Darussalam ini sudah berdiri sejak zaman Belanda, baru sekitar 30 tahun lalu diakui Departemen Agama RI,’’ ujar Kiai Farid kepada Radar Madiun.

Baru sekitar tiga tahun lalu Farid didapuk menjadi pengasuh ponpes. Ini lantaran kiai sebelumnya yang bertugas mengasuh ponpes meninggal dunia. Karena dianggap memiliki ilmu dan kepemimpinan yang mumpuni, akhirnya dirinya pun bertugas menjadi pengasuh. Meski begitu, dia tetap menjalani semua yang menjadi tanggung jawabnya tanpa mengeluh. ’’Ya karena ini sudah jadi amanah, baik jadi pengasuh dan juga guru,’’ ungkap Farid.

Saat pagi, sebelum berangkat mengajar dirinya sudah mengaji dengan santri-santrinya. Setelah pukul 07.00, kegiatan pondok memang bebas. Bagi para santri, diperbolehkan menjalani kegiatan belajar mengajar di sekolah mereka masing-masing. Pun, bagi yang bekerja, dipersilakan bekerja. Dia menyebut para santri memang kebanyakan bekerja di ladang. ’’Kemudian nanti setelah duhur lanjut lagi ngajinya,’’ jelasnya.

Santrinya memang tidak mencapai ratusan. Ada sekitar 20 santri yang memang menginap di ponpes. Pun ada 30 orang santri yang nglaju (pulang-pergi ponpes). Mereka tak hanya berasal dari Kabupaten Madiun, ada pula yang jauh berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Sebagian dari mereka memang bekerja di ladang untuk mendapatkan tambahan uang saku. ’’Seluruhnya mendapatkan perlakuan yang sama,’’ ungkapnya.

Farid menyebut kalau memang di ponpesnya tidak ada sekolah formal. Seperti MI hingga jenjang MA. Dia mengakui kalau di ponpes Darussalam hanya fokus pada ngaji kitab. Sementara santri memang diperbolehkan menempuh pendidikan formal. Dia pun memang tak menghalangi. Menurutnya, memang santrinya butuh semua ilmu. Dan ilmu tak hanya didapat dari ponpes. ’’Kalau tahu labih banyak kan lebih  baik,’’ ungkapnya.

Khusus untuk bulan Ramadan seperti ini, kegiatan ponpes memang diliburkan. Namun, pengajian kitab tetap berjalan. Farid lebih memfokuskan pada pengajian kitab. Namun tidak terpaku ke pada satu kitab saja. Dia menyebutkan kalau para santri bisa request kitab mana saja yang ingin dibahas. ’’Kalua bulan puasa kegiatan memang tetap ada sampai malam hari,’’ ungkapnya.

Harapannya untuk para santri memang tinggi. Dia ingin santri-santrinya bisa mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat dari semua sektor. Terutama dari ponpes. Pun, dia juga ingin santrinya benar – benar bisa menempatkan diri dan beradab. ‘’Supaya tidak sia-sia dalam menuntut ilmu,’’ pungkasnya. *****(fatihah ibnu fiqri/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here