Kholil Jamhari, Pemain Sekaligus Pembuat Biola asal Ngawi

211
TELITI: Kholil Jamhari mengamati detail biola yang dibuatnya.

Kholil Jamhari tidak sekadar piawai memainkan biola. Dia juga membuat alat musik gesek tersebut. Prosesnya tak semudah memainkannya.

—————–

DENI KURNIAWAN, Ngawi

DI teras rumah, Kholil Jamhari duduk menekuri papan kayu. Mesin gerindra di tangannya menyapu permukaannya. Lekuk papan kayu itu diamati lekat-lekat hingga muncul mimik lega dari wajahnya yang berkeringat. ‘’Ini bagian bodi belakang tabung biola jenis akustik,’’ kata Kholil.

Ya, Kholil adalah seorang perajin biola kustom sejak pertengahan 2016. Selama tiga tahun, warga Dusun Kerso I, Desa Kersoharjo, Geneng, Ngawi, itu telah membuat puluhan unit biola. Alat musik gesek berjenis akustik dan elektrik buatannya itu diminati hingga luar daerah. Seperti Jombang; Jepara, Jawa Tengah; Bandung, Jawa Barat; Jakarta; hingga Lampung. Satu unit biola kustom akustik dibanderol minimal Rp 850 ribu dan jenis elektrik Rp 1 juta. ‘’Harga bisa lebih tinggi tergantung aksesorinya,’’ ujarnya.

Usaha pemuda 25 tahun itu bisa dibilang fase lanjutan sebagai seorang musisi. Dia tergabung dalam sebuah band berposisi violis saat SMA dulu. Dia penasaran dengan proses pembuatan alat musik itu. Biola Rp 650 ribu miliknya pun dijadikan kelinci percobaan. Berulang kali dibongkar pasang demi mengetahui kerangka dan komponen penyerta yang menimbulkan bunyi lebih nyaring. Misalnya, mengganti rusuk tripleks dengan kayu. ‘’Saya sering menonton tutorial membuat biola dari YouTube,’’ ungkapnya.

Kholil enggan menganggap sepele tahapan pembuatan. Pasalnya, setiap tahapan berpengaruh pada kualitas bunyi. Tidak hanya segi teknis, jenis kayu juga harus diperhitungkan sesuai karakteristiknya. Jenis kayu yang kerap dimanfaatkan adalah jati, sengon, dan mahoni. ‘’Tapi, kayu jati tidak cocok untuk biola akustik karena cepat pecah. Meski suaranya juga nyaring,’’ papar sulung tiga bersaudara pasangan Ahmadi dan Sumini ini.

Bagi Kholil, membuat violin akustik lebih sulit ketimbang elektrik. Sebab, untuk akustik, ada tujuh tahapan yang harus dilalui. Kali pertama, menyiapkan papan kayu untuk bodi depan-belakang. Kemudian membuat cekungan sebagai ruang resonansi lewat menggerus sedikit demi sedikit papan itu menggunakan gerinda. Setelah selesai, giliran tahapan rusuk. Bagian penutup samping tabung bodi harus dibengkokkan perlahan sealur lekuk violin. Caranya, dicelupkan air lalu dipanaskan api. ‘’Kemudian bodi dan rusuk dirakit jadi satu,’’ sambungnya.

Tahapan selanjutnya membuat setang dan fingerboard. Juga finishing mewarnai biola dengan cat atau sekadar pelitur. Proses tunning membutuhkan konsentrasi tinggi agar suara yang dihasilkan pas di telinga. ‘’Kalau nyetel biola biasanya malam, suasanya lebih tenang,’’ kata Kholil seraya menyebut butuh waktu empat hari hingga sepekan untuk menyelesaikan satu unit biola. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here