Keuletan Rouf Wijayanto Geluti Kerajinan Kandang Ayam

148

MADIUN – Peternakan jadi sektor mentereng setelah pertanian. Peluang itu tak ingin dilewatkan Rouf Wijayanto. Warga Rt 30 Rw 03 Dusun Jatirogo, Wungu, Kabupaten Madiun sukses menggeluti usaha pembuatan kandang ternak ayam petelur dan burung puyuh. Promosi dilakukan via media sosial (medsos).

Ratusan batang bambu terlihat menggunung di seberang halaman rumah. Bambu jenis apus itu dalam keadaan setengah kering. Pun, masih berupa batang yang baru dipotong dari pohon. Setelah itu dibersihkan dari ranting dan daun. ’’Itu kiriman untuk garapan selanjutnya,’’ kata Rouf Wijayanto, sang empu rumah saat ditemui Radar Caruban.

Wid –sapaan akrab Rouf Wijayanto- sudah menjalankan usaha itu sekitar tiga tahun. Kandang buatannya berbahan utama bambu. Selain murah, bambu justru lebih awet. Selain itu, lebih mudah dipotong. Juga, bahan bahan tersebut mudah didapat. Di lereng Gunung Wilis ada banyak pohon-pohon bambu yang siap digunakan. ’’Saya memang beli dari daerah Kare, Dagangan. Yang dekat-dekat sini,’’ ujarnya.

Kemampuan itu diperoleh saat dirinya bekerja di salah satu usaha yang sama milik tetangganya. Sekitar dua tahun, setelah merasa mampu Wid membuka sendiri. Bambu serumpun di kebun kakeknya digunakan menggarap pesanan pertama kali. ’’Dari Wonosobo pesanannya, sekitar 50 box,’’ katanya.

Awalnya, dia tak memiliki karyawan sama sekali. Dalam membentuk masing-masing bagian dari bambu dibantu sang istri.  Termasuk, untuk merapikan bagian-bagian bambu yang masih ada sisa serabutnya. JIka sudah selesai membuat bagian perbaikan. Sang istri juga kadang turut memaku kerangka. ’’Pengerjaannya butuh waktu,’’ ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Wid akhirnya punya anak buah. Totalnya ada 15 orang. Rinciannya, lima orang untuk merangkai masing-masing bagian. Sementara 10 orang lainnya para ibu-ibu yang bertugas menghaluskan bambu. ’’Dan itu pekerjaan yang dibawa ke rumah, kalau yang merangkai harus di sini,’’ katanya.

Saat pertama kali buka usaha, Wid hanya mengandalkan kenalan. Berselang lima bulan dia menggunakan promosi media sosial (medsos) Facebook. Dia memasarkan melalui grup-grup yang ada di Facebook. Baik lokal maupun yang sampai seluruh Indonesia. ’’Awalnya grup Pasar Njoyo itu, sekarang ke grup Komunitas Peternak Ayam Petelur yang cakupannya nasional,’’ katanya.

Sejak saat itulah pesanannya semakin ramai. Pemesan berdatangan dari Surabaya, Lamongan, Jogjakarta, hingga Semarang. Jangkauan baru wilayah Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng). Dia ingin melebarkan pemasaran sampai ke seluruh pulau Jawa. Namun, masih terkendala kendaraan pengiriman. ’’Terkadang kan pembeli nggak mau ambil sendiri,’’ katanya.

Dia mematok harga Rp 60 ribu per box yang berbahan bambu. Jika lantai box berbahan besi, harganya sekitar Rp 100 ribuan. Pun, akan ada penambahan ongkos kirim jika minta dikirimkan ke pemesan. Ongkos itu bisa lebih murah lantaran kini dirinya memiliki kendaraan sendiri. ’’Kalau dulu masih harus minta bantuan tetangga yang punya kendaraan,’’ katanya.

Saat itu, kata dia, peralatannya masih sederhana. Dulu memotongi bambu menggunakan gergaji biasa. Jelas, memakan waktu lama. Kini sudah memiliki gerinda untuk memotongi bahan bambu tersebut. Wid bersyukur karena usahanya memang semakin berkembang. ’’Mungkin bakal nambah alat lagi, supaya dalam sehari bisa lebih dari 30 box yang bisa dikerjakan,’’ katanya.

Wid mengatakan, pesanan paling banyak yang dikerjakan dari Magetan. Sekitar 200 box yang dipesan. Itu pun dia menyetok bambu sebanyak 500 batang. Namun, dia tidak menyimpan stok bambu. Dia hanya pesan bambu kalau ada pesanan kandang. Lantaran, kualitas bambu bisa berkurang jika terlalu lama disimpan. ’’Jadi pesan, datang langsung digunakan untuk garap,’’ katanya. *****(fatihah ibnu/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here