Kesenian Pentul Tembem Nyaris Tenggelam Dielan Zaman

74

Eksistensi kesenian Pentul Tembem terancam. Ketiadaan regenerasi pemain mengakibatkan kesenian itu terancam hilang. Bagaimana menjaganya agar tetap ada di kota karismatik.

SEKILAS fragmen yang dimainkan para seniman Pentul Tembem terasa seperti ludruk. Mencuplik sebuah cerita atau lakon secara utuh. Itulah yang ditampilkan oleh Widodo dan Agung Wijanarko saat mengisi acara Festival Budaya Mataraman (FBM) pada Desember 2018 lalu di halaman Balai Kota Madiun.

Selain mereka sebenarnya masih ada Eyang Putri Uripto Raharjo dan Budi Ismugito yang ikut nguri-nguri kesenian tari khas Kota Madiun tersebut. Hanya belakangan keduanya vakum karena di makan usia.

Widodo tak menampik kesenian Pentul Tembem nyaris tenggelam ditelan zaman. Kesenian yang berlatarbelakang sejarah Komoleya dan Bagus Burhan itu seolah kurang banyak diminati. ‘’Bahkan, banyak orang yang menganggap kesenian itu kurang menarik,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Madiun, Jumat (11/1).

Padahal, menurut Widodo, fragmen Pentul Tembem mengandung suatu pesan moral. Di mana suatu tujuan hanya dapat dicapai dengan usaha keras dan tekun. Serta tidak mengedepankan emosi.

Di tangan keduanya, saat ini popularitas Pentul Tembem sedikit terangkat. Setelah sebelumnya sempat vakum. Supaya lebih menarik mereka keluar dari pakem. Menjadikan kesenian itu kontemporer. Seperti saat tampil di Festival Budaya Mataraman mereka membawakan cerita tentang rokok tanpa pita cukai. ’’Jadi, sifatnya lebih ke penerangan,’’ kata guru bahasa Inggris di SMK YP 17-1 Madiun itu.

Bahkan, sesekali kesenian itu dimainkan dengan diiringi oleh gamelan. Itu sekaligus menjadi pelengkap karena pemain Pentul Temben ketika membawakan sebuah lakon harus berjoget.

Widodo mengungkapkan, kesenian itu dilestarikan dengan cara menampilkannya dalam setiap acara bersih desa. Yakni, pada bulan Suro (kalender Jawa). Menurut sejarah, lanjut dia, kesenian itu dulu kali pertama dimainkan pada abad ke-18. Pada masa tersebut, menceritakan tentang sejarah perjalanan Raden Ngabehi Ronggowarsito atau disebut Bagus Burhan.

Tari ini memakai topeng sebagai ciri khasnya. Topeng berwarna putih sering disebut Pentul sedangkan topeng berwarna hitam sering disebut Tembem. Tari ini merupakan tari berpasangan karena ditilik dari sejarahnya dahulu tari ini dimainkan oleh dua orang bernama Kromoleya dan Onggoleya. ‘’Tarian ini awalnya digunakan sebagai komunikasi untuk menyampaikan berita rahasia dari Kyai Ageng Kasan Besari yang berisi untuk memanggil kembali Bagus Burhan ke Desa Tegalsari,’’ terang Widodo.

Karena pada saat itu, terang Widodo, banyak terjadi wabah penyakit sepeninggal Bagus Burhan di desa tersebut. Kramoleya adalah utusan dari Kyai Ageng Kasan Besari, dia mencoba bertahan hidup dengan ngamen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama mencari Bagus Burhan.

Pada saat Kramoleya ngamen di Alun-alun Madiun, secara kebetulan Bagus Burhan dan Onggoleya sedang beristirahat di Masjid Agung. Onggoleya yang melihat Kromoleya sedang ngamen, langsung mendekati dan ikut menari bersama Onggoleya. ‘’Akhirnya disampaikanlah berita tersebut kepada Kromoleya saat menari bersama di alun-alun tadi,’’ ujar pria 40 tahun tersebut.

Sementara itu, Agus Wijanarko mengungkapkan bahwa kesenian tersebut pernah diminta tampil dalam acara di Balai Pelestarian Nilai Budaya, Jogjakarta. Bahkan, ketika tampil dalam Lomba Cerdas Cermat Kelurahan di Pasuruan berhasil mendapatkan juara 2 tingkat Provinsi Jatim. ‘’Dulunya beberapa kali ditampilkan oleh kelompok kesenian Wisma Melati. Sekarang, diperkenalkan kembali oleh KIM Citra Taruna Kenanga Winongo,’’ jelas Agus yang juga guru TKI di SMK YP 17-1 Madiun tersebut. (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here