KESEHATAN: Kekurangan RTK, Kematian Bumil Tinggi

33

PONOROGO – Ini lampu kuning bagi Pemkab Ponorogo agar kasus kematian ibu hamil (bumil) dua tahun lalu yang mencapai belasan tidak terulang. Sebab, masuk caturwulan pertama tahun ini sudah ada tiga kejadian. Persoalannya, keberadaan rumah tunggu kelahiran (RTK) sebagai salah satu upaya mengurangi risiko belum diikuti dengan keinginan bumil menempatinya.

Kepala Dinkes Ponorogo Rahayu Kusdarini menuturkan, keberadaan RTK penting untuk menjaga kesehatan bumil dan keselamatan janin. Fasilitas itu sebagai tempat tinggal selama sekitar dua hingga tiga minggu sebelum hari perkiraan lahir (HPL). Perawatan dan pendampingan diberikan. Adanya RTK menghindarkan bumil yang harus melakukan perjalanan darat di saat genting menjelang persalinan. Apalagi yang tinggal di daerah pegunungan dengan akses sulit menuju rumah sakit. ‘’Saat ini RTK hanya di puskesmas tertentu dengan kondisi geografis pegunungan dan medan ekstrem,’’ ujarnya.

Irin –sapaan akrab Rahayu Kusdarini– menjelaskan umumnya RTK berada di rumah bidan desa puskesmas. Meski biaya tinggal dan perawatan medisnya dibebaskan. Bumil cenderung memilih tinggal di rumahnya sendiri. Situasi yang membuat pihaknya tidak bisa berbuat banyak. ‘’Kami hanya bisa mengimbau dan sosialiasi agar bersedia tinggal di RTK sebelum masa HPL,’’ ucapnya kepada Radar Ponorogo.

Dinkes Ponorogo mencatat Januari hingga April ini ada tiga bumil yang meninggal. Sepanjang tahun lalu ada sembilan. Jumlah tersebut turun separo dari 18 kasus di 2017. Pemkab berencana membangun RTK terpusat di dekat rumah sakit. Nantinya, bumil diberi pilihan menggunakan fasilitas dirawat RTK puskesmas atau pusat. ‘’Meski fungsi dan pelayanan sama saja,’’ katanya. (mg7/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here