Kerugian Materiil Bencana Capai Rp 1,49 M

66

MAGETAN – Magetan masih menjadi salah satu kawasan paling rawan bencana. BPBD setempat mencatat, sepanjang 2018 wilayah Magetan telah dilanda 110 kali bencana. Bahkan, intensitas kebencanaannya meningkat dibanding 2017 lalu. Saat itu hanya ada 65 kejadian. ‘’Dari jumlah kejadian (bencana) tahun 2018, ada 21 kasus bencana baru,’’ kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Magetan Ari Budi Santoso.

Sedangkan, kerugian materiil akibat bencana itu mencapai Rp 1,49 miliar. Jumlah tersebut meningkat tajam dibanding perhitungan 2017 lalu yang hanya sebesar Rp 661,5 juta. ‘’Kenaikan terjadi di luar bencana baru, tapi juga disebabkan faktor perubahan iklim yang semakin ekstrem,’’ ungkap Ari.

Pihaknya mengklaim upaya penanganan bencana sudah dilakukan maksimal. Termasuk untuk menurunkan dampak bencana yang berimbas pada membengkaknya penghitungan angka kerugiaan materiil.

Seperti sosialisasi tanggap bencana kepada masyarakat. Dalam hal ini, sifatnya memberikan edukasi terkait mitigasi bencana. ‘’Karena selama ini masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana baru merespons jika ada bencana melanda,’’ ujar Ari.

Melonjaknya intensitas bencana sepanjang 2018 juga dibenarkan Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra. Kondisi itu makin membuat dirinya beserta tim reaksi cepat (TRC) dan relawan bekerja ekstra. Apalagi, belum semua masyarakat memahami risiko dan mitigasi bencana. ‘’Minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kondisi alam menjadi salah satu penyebab meningkatnya bencana di Magetan pada 2018,’’ terang Fery.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan. Apalagi, musim penghujan belum memasuki puncaknya.

Kendati demikian, lanjut Fery, BPBD beserta stakeholder lain semaksimal mungkin memantau kondisi di lapangan sebagai tahap pencegahan bencana. Termasuk mengajak masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Lawu bekerja sama menggalakkan program reboisasi. Serta membersihkan saluran air yang ada di sekitar lereng gunung. ‘’Ini semata-mata untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam yang bisa terjadi kapan saja,’’ pungkasnya. (mgc/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here