Madiun

Keroyokan Lawan Stunting

Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

SAAT menulis ini, pikiran saya sedikit terpecah. Antara apa yang ingin saya tuliskan dengan mengikuti jalannya pelantikan presiden dan wakil presiden di televisi. Tanggal 20 Oktober 2019 memang menjadi momen penting bagi bangsa ini. Yakni, pengambilan sumpah pimpinan tertinggi negara hasil pilihan masyarakat pada pemilihan umum beberapa waktu lalu. Ini cukup menarik perhatian saya. Sebagai kepala daerah, saya harus memastikan Kota Madiun selalu aman. Terutama selama pelantikan. Hal itu sudah menjadi atensi pemerintah pusat. Pemerintah daerah harus turut mensukseskan pelantikan, paling tidak dengan menjaga keamanan di daerah masing-masing.

Sejauh ini, Kota Madiun cukup kondusif. Saya selalu mengajak masyarakat untuk berdoa demi kelancaran pelantikan presiden, lembaga tinggi negara itu, di setiap kesempatan bertemu. Seperti pagi ini saat acara peringatan 1 Dekade Madiun King Community atau Maki di halaman parkir Gor Wilis. Saya mengajak semua masyarakat untuk turut menjaga keamanan. Hal itu disambut baik para mania king dengan melaksanakan deklarasi keamanan mensukseskan pelantikan presiden dan wakil presiden di Jakarta. Upaya itu berbuah manis. Pelantikan berlangsung lancar. Kota Madiun juga aman.

Namun, ada yang tak kalah penting di Kota Madiun. Yakni, masalah stunting. Karenanya, saya tetap menuliskan ini kendati konsentrasi terpecah tadi. Stunting di kota kita masih cukup besar. Ada 514 anak sampai saat ini. Hal itu tentu jumlah yang tidak sedikit kendati sejatinya angka terus turun. Angka tersebut membuat saya prihatin. Apalagi, momentumnya saat Hari Pangan Sedunia. 16 Oktober lalu. Peringatan juga berlangsung meriah di Kota Madiun. Namun, ada sedikit yang mengusik. Angka stunting tadi.

Tumbuh-kembang anak yang tidak normal karena masalah gizi tersebut harus dituntaskan. Ini butuh peran bersama. Saya harap anak-anak stunting ini mendapatkan perhatian khusus. Setiap kegiatan organisasi perangkat daerah (OPD) yang ke arah sosial harus mengedepankan anak-anak stunting. Pemerintah daerah sudah memulai dengan memprioritaskan daging hasil kurban untuk anak stunting saat Idul Adha lalu.

Hal itu harus diikuti OPD maupun instansi atau perusahaan. Sebagian anggaran corporate social responsibility (CSR) harus untuk perbaikan gizi anak-anak kurang beruntung tersebut. Tidak harus besar. Namun, disesuaikan kekuatan perusahaan masing-masing. Entah itu hanya satu hari, satu minggu, atau satu bulan. Perusahaan lain akan langsung menyambungnya. Artinya, ada kesinambungan pemberian gizi bagi anak stunting. Tatkala itu tidak putus, saya optimis gizi mereka tercukupi sehingga terbebas dari stunting tadi.

Begitu juga dengan OPD. Tidak harus dinas kesehatan dan KB atau dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak atau dinas pertanian dan ketahanan pangan. Namun, semua OPD. Dinas Tenaga Kerja misalnya. Salah satunya dengan memberikan pelatihan keterampilan dan pelatihan kerja kepada keluarga stunting. Harapannya, mereka semakin berdaya mengangkat perekonomian keluarga. Artinya, mereka dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi keluarganya.

Begitu juga dengan Baznas. Saya berharap program permodalan dan tempat usaha terus ditingkatkan. Tidak sekedar diberi lantas selesai. Namun, ada pendampingan. Misalnya, dengan menempatkan binaan yang mendapat bantuan tadi di pangsa pasar. Sundy Market salah satunya. Binaan yang baru mendapat gerobak tempat berjualan bisa disandingkan dengan pelaku usaha yang sudah cukup lihai berjualan. Harapannya, ada proses pembelajaran. Tatkala mereka ingin berjualan di tempat lain, tidak kaget lagi. Sudah tahu jurus-jurusnya. Bahkan, bisa semakin berkembang. Syukur-syukur dapat menyerap pengangguran.

Pengangguran dekat dengan kemiskinan. Sedang, kemiskinan dekat dengan sulitnya pemenuhan gizi yang baik. Gizi buruk identik dengan stunting. Ini harus diputus. Namun, tidak bisa berjalan sendiri. Harus bersama. Kalau perlu keroyokan. Keroyokan lawan stunting. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close