Kerap Dapat ’’Job’’ Tangkap Ular Masuk Permukiman

113

MADIUN – Belasan pemuda tampak duduk santai tak jauh dari pintu masuk kompleks Sun City. Tak jauh dari mereka terlihat kotak-kotak kaca berisi aneka jenis reptil. Mulai ular, bunglon, biawak, hingga iguana. Sesekali mereka sibuk memberi penjelasan kepada pengunjung yang sengaja datang mendekat.

Tidak lama kemudian, seorang petugas datang mengabarkan bahwa di salah satu bangunan kosong kompleks Sun City terdapat ular. Sontak beberapa pemuda berdiri dan berjalan menyusuri lokasi penemuan ular tersebut.

Sesampainya di lokasi, mereka menyisir bangunan kosong itu. Ada yang sengaja memanjat pohon dan blusukan ruang penyimpanan genset. ‘’Kalau semacam ini di komunitas kami biasa disebut rescue,’’ kata Rocky Edy Irawan, pentolan komunitas Bolo Reptil Madiun (Brem).

Brem terbentuk dua tahun silam. Inisiatornya Wawan –sapaan akrab Rocky Edy Irawan- dan tiga temannya sesama penyuka reptil. Sebelumnya, mereka tergabung dalam komunitas reptil lain namun belakangan vakum. ‘’Dari yang semula empat orang, sekarang anggotanya sudah 40 lebih,’’ ujarnya.

Saban dua pekan –pada hari Sabtu– anggota Brem berkumpul di pendapa alun-alun Kota Madiun. ‘’Sengaja dijadwalkan dua minggu sekali. Kalau seminggu sekali cepat bosan, sebulan sekali terlalu lama,’’ sebutnya.

Acara kumpul bersama seperti itu kerap dimanfaatkan untuk share pengetahuan pengalaman pemeliharaan reptil. ‘’Contoh sepele, cara membedakan ular venom dan non-venom. ’’Kedua jenis itu bentuk dan warnanya sama, tapi yang satu tidak berbisa,’’ tuturnya sembari menyebut saat gathering sering bagi-bagi stiker yang mencantumkan contact person bagi warga yang membutuhkan bantuan rescue.

Teranyar, dua pekan lalu mereka melakukan rescue di sebuah perumahan Desa Sidorejo, Wungu, Kabupaten Madiun. Kala itu sebanyak 20 ekor ular berbisa berhasil ditangkap. ‘’Hunting-nya setelah magrib sampai jam 21.00. Seringnya memang malam,’’ ungkapnya.

Sebelum berangkat, setiap anggota diwajibkan membawa kelengkapan safety. Mulai sepatu, stick grab, serta hook dan tas atau karung reptil. Sebelum beraksi, dilakukan briefing singkat agar proses hunting berjalan lancar. ‘’Setelah itu baru menyisir lokasi yang ditengarai ada ular,’’ bebernya.

Kemudian, hasil perburuan dicek kondisi kesehatannya. Jika sakit dirawat sampai sembuh. Sebaliknya, apabila kondisinya sehat akan dilepas kembali ke habitat yang jauh dari permukiman warga. ‘’Lokasinya tidak satu titik saja, pernah juga di hutan Kare sana,’’ sebutnya.

Saat melakukan proses rescue, mereka juga mengedukasi warga seputar reptil, khususnya ular. Termasuk cara membedakan ular yang berbisa dan tidak serta cara penanganannya yang benar. ‘’Yang terpenting jangan dibunuh,’’ tegasnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here