Kepincut Drag Bike sejak SD, Ndaru Pilih Resign Kerja demi Balapan

389

Dari awalnya pembalap liar, Dwiyandaru Rossa Hanggara menjelma menjadi joki drag bike sarat prestasi. Deretan piala yang berjajar menyesaki salah satu sudut ruangan rumahnya menjadi bukti bakat besarnya.

—————–

SUARA geberan knalpot jelas terdengar dari smartphone Dwiyandaru Rossa Hanggara yang sore itu sedang duduk santai di teras rumahnya. Sejurus kemudian, dia tersenyum kecil sesaat setelah suara video berhenti. ‘’Ini pas balapan dulu,’’ kata pemuda yang akrab disapa Ndaru itu.

Ndaru adalah seorang joki drag bike. Pemuda 23 tahun itu kadung lekat dengan kuda besi pretelan yang bisa berlari superkencang itu. Dia mulai mengenal drag bike saat masih duduk di bangku kelas VI SD.

Menahun berkecimpung di dunia balap, ratusan kali sudah dia menggeber motor di trek lurus. Mulai kejuaraan lokal sampai menyeberang ke Kalimantan. ‘’Saking banyaknya, lupa sudah berapa kali ikut lomba,’’ ungkap Ndaru.

Salah satu perlombaan yang tak akan dilupakan Ndaru adalah saat berhasil menjadi juara umum Kejurda Kaltim 2017. Bagaimana tidak, warga Dusun Ngadiluwih, Desa Gemarang, Kedunggalar, ini unjuk kebolehan di lima kategori perlombaan.

Ndaru moncer saat turun kelas Ninja standar. Di kelas matic 200 cc, dia juga berjaya. Pun, Ndaru tak kalah cepat dengan peserta lain saat melesat di kelas bebek 4 tak 130 cc, bebek 4 tak 200 cc, dan Ninja tune up. ‘’Pembalap mana saja pasti senang jadi juara umum,’’ ujarnya terkekeh.

Tak kalah istimewa adalah momen balapan di Ngawi setahun sebelumnya. Kategori umum yang untuk kali pertama digelar berhasil ditaklukkannya. Predikat juara umum lokal Bumi Orek-Orek kelas 200 cc pun menjadi milik pemuda dengan model jambul lancip itu.

Ndaru sudah menjajal berbagai kejuaraan balap drag bike. Deretan piala pun berjajar menyesaki salah satu sudut ruangan rumahnya. ‘’Kuncinya saat start. Penting itu untuk mendapatkan waktu tercepat,’’ ungkapnya membocorkan jurus saat menunggangi kuda besi di lintasan.

Ndaru tidak sembarangan ketika memelintir tuas gas di garis start. Dia main perasaan. Desing dari knalpot, getaran kendaraan, benar-benar diperhitungkan sesaat sebelum melesat menuju garis finis. Pun, timing mengoper gigi mesti pas agar laju motor drag bisa maksimal.

Ketertarikan Ndaru pada motor drag bermula saat diajak seorang kerabat menonton balapan. Matanya tak berkedip melihat sepasang drag bike beradu cepat di lintasan. Sepulang nonton balapan tersebut, benak Ndaru dijalari keinginan untuk bisa balapan. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi serampung diam-diam ikut liaran. ‘’Masih kelas VI SD itu. Sembunyi-sembunyi dari orang tua,’’ kenang bungsu dua bersaudara ini

Ndaru akhirnya mendapat restu dari kedua orang tuanya sesaat setelah kali pertama ikut balapan drag resmi di Klaten pada 2009. ‘’Waktu itu dapat juara III. Panjang treknya 201 meter, saya pakai F1ZR tune up,’’ ungkapnya.

Keseharian Ndaru setelah itu tak jauh-jauh dari bengkel. Ibaratnya, tiada hari tanpa menggeber motor drag. Luka-luka babras akibat atuh terpelanting saat nyeting, sudah menjadi sego-jangan baginya. Dia juga pernah dua kali mengalami gegar otak. Dua-duanya didapat saat latihan. ‘’Tapi, nggak kapok. Sabtu malam keluar rumah sakit, Mingunya ikut balapan juga pernah,’’ kenangnya.

Dalam setahun, Ndaru setidaknya turun lintasan sebanyak 15 kali. Kendati begitu, dia tidak luput dari kata gagal. Tak jarang juga Ndaru pulang dari kejuaraan tanpa menenteng piala. ‘’Latihan terus. Cari tahu kenapa bisa kalah, lalu diperbaiki lagi,’’ ungkapnya.

Rentang waktu 2018, intensitasnya turun lintasan sedikit berkurang. Ndaru disibukkan dengan pekerjaannya sebagai supervisor di salah satu dealer motor kenamaan. Namun, tahun ini dia sudah tidak bisa menahan gatal menunggangi kuda besi dan melejit di trek lurus. ‘’Sudah resign Desember kemarin. Mau fokus balapan lagi,’’ kata Ndaru. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here