Kepercayaan Sapta Darma Diakui Negara

263

PONOROGO – Kepercayaan Sapta Darma merupakan salah satu aliran kejawen yang sangat besar di Bumi Reyog. Sedikitnya 400 pengikut tersebar di seluruh wilayah kabupaten ini. Namun, kebanyakan dari penganutnya belum mengetahui bahwa paham yang dipercaya kini telah mendapat pengakuan dari negara. Itu berdasarkan amar putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 tanggal 18 Oktober 2017.

Sampai kini pun masih banyak yang belum tahu jika pimpinan tertinggi di tanah air adalah Saikun. Tokoh 80 tahun itu merupakan warga Jalan Prahasto, Kelurahan Surodikraman, Ponorogo. Sayangnya, koran ini belum berkesempatan bertemu dengan sang tuntunan agung tersebut. Saat mengunjungi kediamannya, Saikun sedang menjalani beberapa agenda di Candi Sapto Renggo, Jogjakarta. Itu merupakan tempat ibadah pusat bagi seluruh penganut yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Beruntung, Tukiman, juru kunci Sanggar Candi Busono di kelurahan setempat, meluangkan waktu. Dia menjelaskan Sanggar Candi Busono merupakan tempat ibadah bagi para penganut di daerah. Sedikitnya terdapat lima Sanggar Candi Busono di daerah setempat. ‘’Sanggar juga menjadi tempat berkumpul,’’ kata juru kunci 76 tahun itu.

Para penganutnya biasa menggelar acara dan ibadah khusus di malam Minggu Kliwon. Aktivitas ibadah dimulai pukul 19.00 hingga selesai. ‘’Biasanya sampai tengah malam,’’ ujar Tukiman.

Pada 1982, Sanggar Candi Busono diresmikan oleh Tuntunan Agung Kerokhanian Sapta Darma Pusat Jogjakarta Ibu Sri Pawenang. Dulu, bangunan tidak seperti yang tampak saat ini. Masih berupa bangunan sederhana dan sempat dipugar tiga kali. ‘’Dipugar pertama 1965, kemudian 1967, dan 1982,’’ urainya.

Anggaran pembangunannya bersumber dari swadaya penganut. Hingga kini tidak ada bantuan dari pemerintah untuk pembangunan sanggar. ‘’Sampai saat ini masih mandiri semua. Kita swadaya secara bersama-sama,’’ tegasnya.

Bagi penganut ajaran Sapta Darma, ibadah diwujudkan dalam bentuk sujud. Biasanya dilakukan minimal sehari sekali. Semakin banyak lebih baik. Tentunya dalam pelaksanaan sujud disesuaikan dengan tuntunan dalam ajaran tersebut. ‘’Sujudnya bersila menghadap ke timur. Kemudian ada bacaan yang harus kami lafalkan,’’ tuturnya.

Tukiman mengungkapkan, pelaksanaan sujud tidak harus dilakukan di sanggar. Bisa di rumah masing-masing penganut. Sebagaimana ibadah agama lainnya. Sujud memiliki tujuan untuk menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa. ‘’Untuk mencapai hening, kita mendekat dan menyatu kepada Tuhan Yang Maha Esa,’’ ungkapnya.

Tuntunan pelaksanaan sujud secara lengkap dijelaskan dalam Buku Wewarah Kerokhanian. Kitab yang dijadikan pedoman bagi penganut ajaran. Pun, di dalamnya terdapat tujuh kewajiban suci dan panca sifat manusia. Kali pertama wahyu diturunkan kepada Hardjosapoera, asli Kediri 1952 silam. Para penganut ajaran menyebutnya Bapa Panuntun Agung Sri Gutama. ‘’Yang menyebarkan ajaran ke seluruh wilayah,’’ imbuh Tukiman.

Meskipun banyak yang belum familier, Tukiman tak menutup diri untuk menjelaskan kepada warga yang penasaran. Terlebih bagi mereka yang menganggap bahwa ajaran tersebut merupakan sesat. ‘’Kami punya tuntunan sendiri, ada yang menganggap sesat? Di Jogjakarta, salah satu ormas akhirnya paham tentang ajaran kami. Di sini masih kondusif dan warga menerima kehadiran kami,’’ ucapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here