Madiun

Kepedulian Bagus Insanu Rokhman Membuat Literasi Visual Brem

Literasi visual seputar brem masih minim. Padahal produk khas Bumi Dongkrek itu sudah menasional. Bagus Insanu Rokhman tak ingin melewatkannya. Dia mendedikasikan karya skripsnya dengan mengupas produk UMKM asli Kabupaten Madiun itu.

———————————-

FATIHAH IBNU FIQRI, Geger

TANGANNYA mencengkeram pegangan kamera digital single lens reflex (DSLR). Salah satu tangannya memutar lensa. Sambil matanya mengintip di view finder. Mencari fokus yang pas untuk memotret proses merebus air tape yang akan dijadikan brem. Setelah fokus ketemu, jari telunjuknya menekan tombol shutter untuk membidik gambar.

Beberapa kali bidikan, dia lantas menjauhkan mukanya dari jendela intip kamera. Kemudian dia tekan tombol playback untuk melihat hasil jepretannya. Dia menggeser gambar-gambar yang muncul di layar LCD kameranya. Setelah merasa mendapat gambar yang cocok dia lantas bergeser untuk memotret proses berikutnya.

Ditemani salah seorang kawannya yang bertanggung jawab atas lighting, dia memotret satu demi satu proses pembuatan brem mulai dari ketan yang diajdikan tape hingga proses packing brem. Semua itu dilakoninya demi untuk membuat skripsi yang dibuat untuk memenuhi penelitiannya sebagai syarat lulus sarjana di Universitas Negeri Malang.

Bagus Insanu Rokhman, pemuda asli Desa Sangen, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun itu sengaja memilih proses pembuatan brem untuk dia abadikan prosesnya dan kemudian dijadikan dalam karya ilmiah. Selama ini, dia belum banyak menemukan banyak literasi yang membahas tentang olahan tape satu satunya di Indonesia itu. Hanya segelintir saja. Pun, yang dia jadikan acuan adalah sebuah novel. ’’Kebetulan ada novel yang sedikit menyinggung soal proses membuat brem,’’ katanya.

Saat memotret langsung proses pembuatan brem di Desa Kaliabu pun dia juga tak menemukan sama sekali buku yang membahas brem. Dia lebih banyak mencari tahu dengan mewawancarai warga setempat yang membuat brem. Hanya segelintir dari mereka yang benar – benar paham soal cara membuat brem. Beruntung dia sempat bertukar pendapat dengan pemimpin koperasi pengusaha brem. ‘’Brem kemungkinan dibuat sejak zaman Majapahit. Karena teknologi brem sudah dikenal sebelum 110 Masehi,’’ ungkapnya.

Fakta mengejutkan itulah yang membuatnya makin penasaran. Belum lagi hal itu juga diperkuat dalam Serat centini yang ditulis pada periode 1814 – 1823 yang menyinggung tentang makanan tradisional saat itu. Kemudian, menurut mitos yang dianut warga setempat, hanya Kaliabu yang memiliki cuaca dan air yang cocok untuk membuat brem. Dulunya brem tidak dibuat padat seperti sekarang. Dulu brem hanya cair saja. Dan langsung dikonsumsi dengan diminum. ’’Kalau sekarang yang masih seperti itu hanya di Bali,’’ katanya.

Dan saat itulah akhirnya, tercetus untuk membuat brem menjadi padat. Lantaran Kaliabu pun memiiki cuaca yang berbeda dengan kebanyakan daerah di Mejayan. Saat musim hujan, di Kaliabu masih tergolong jarang hujan. Dan cuaca seperti itulah yang cocok untuk menjemur brem. Percaya atu tidak, itu pun juga terjadi sampai sekarang. ’’Beberapa warga yang saya wawancari mengungkapkan hal yang sama,’’ katanya.

Pun, mereka juga menyebut kalau ada sumber air yang airnya cocok untuk dijadikan campuran tape yang kemudian digunakan untuk membuat brem. Dan sumber air itu hanya mengalir di Kaliabu. Namun, untuk itu dia juga belum membuktikannya. Hanya cerita itu cukup berkambang di mayarakat terdahulu di Kaliabu. UNtuk saaat ini memang belum ada yang memastikan apakah ada sumber air tertentu seperti yang dimaksud atau tidak. ’’Begitulah cerita dari para warga,’’ katanya.

Sampai saat ini, memang belum banyak yang tahu tentang sejarah brem. Sayanganya di skripsinya dia tidak bisa terang – terangan memunculkan itu. Karena fokusnya adalah tentang cara membuatnya saja. Menurutnya, itu pun juga sudah cukup sulit karena minimnya literatur untuk menunjang narasinya. ’’Banyak mengandalkan keterangan dari warga setempat,’’ katanya.

Alumni SMK N 1 Jenangan Ponorogo itu juga banyak mencari informasi dari internet mengenai brem Kaliabu. Sayangnya, belum ada sama sekali literatur yang membahas secara rinci dan mendalam tentang brem yang ada di Kaliabu. Hingga akhirnya, dia pun hanya mengacu pada proses pembuatan brem yang sempat dibahas dalam sebuah novel. ‘’Sedikit membantu penulisan narasi saya,’’ pungkasnya. *****(ota/bersambung)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close