Magetan

Kepala Dinkop-UMKM Ikut Swab Test Covid-19

Di Ambang Pintu Ring SatuMAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Persebaran Covid-19 kini berada di ambang pintu ring satu Pemkab Magetan. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Dinkop-UMKM) Parminto Budi Utomo harus di-swab test karena punya riwayat kontak erat dengan pasien positif korona. Pasien itu menjadi narasumber acara pelatihan rias pengantin yang dihelat dinkop-UMKM di gedung Korpri 14–15 Agustus. Pemateri itu ketahuan terinfeksi dua pekan berselang. ‘’Terkonfirmasi positif Covid-19 tiga hari lalu (Sabtu, 29/8),’’ kata Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono. Selain Parminto, 14 aparatur sipil negara (ASN) harus menjalani pemeriksaan serupa kemarin dan Senin (31/8). Perinciannya, enam anak buah Parminto; lima dari dinas tenaga kerja (disnaker); dan tiga dari dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga (disdikpora). ‘’Kedua organisasi perangkat daerah (OPD) itu (disnaker dan disdikpora, Red) ikut pelatihan karena punya keterkaitan dengan tema acara,’’ ujarnya. Didik menyebut, jumlah orang terlibat acara pelatihan mencapai 80. Jumlah puluhan itu terbagi empat pihak. Yakni, narasumber, model praktik rias, peserta, dan ASN selaku pendamping. Selain ASN, model rias sebanyak 36 juga diambil sampel lendir tenggorokan atau hidungnya kemarin. Tes usap harus dilakukan karena berinteraksi langsung dengan pemateri. ‘’Kalau peserta tidak dites swab karena sebatas mengamati. Tidak sampai berinteraksi dengan narasumber,’’ paparnya. Khusus peserta hanya melakukan pemeriksaan uji cepat Covid-19. Bila hasilnya reaktif dilanjutkan dengan swab di puskesmas tempat tinggal masing-masing. ‘’Hasil swab keluar tiga sampai lima hari. Selama itu, semuanya (pihak terlibat acara pelatihan, Red) melakukan isolasi mandiri,’’ ucap Didik. (odi/c1/cor) Acara Pelatihan Rias Bukan Bahan Evaluasi KANTOR dinkop-UMKM di-lockdown mulai kemarin. Bupati Suprawoto meliburkan pelayanan untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19. ‘’Kapan lockdown dibuka, melihat perkembangan kasus. Khususnya hasil uji swab,’’ katanya. Kang Woto, sapaan akrab Suprawoto, mengatakan, acara pelatihan rias pengantin tidak akan dijadikan bahan mengevaluasi kegiatan kemasyarakatan. Terutama yang dihelat oleh organisasi perangkat daerah (OPD). Menurut dia, temuan pasien positif korona dari acara pertengahan bulan lalu itu hanya kebetulan. ‘’Yang terpenting setiap kegiatan selalu menjalankan protokol kesehatan,’’ ujarnya. Dia menyebut, program dan kegiatan OPD tidak boleh mandek di masa transisi adaptasi kebiasaan baru (AKB). Pekerjaan harus berjalan seperti biasa. ‘’Dengan menerapkan protokol kesehatan,’’ tegasnya. (odi/c1/cor) Warga Dibikin Repot WH, tetangga IH, pasien ke-198 yang meninggal karena Covid-19, bersyukur. Meski mendatangi pemakaman direktur Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kawedanan, Magetan, itu, dia tidak masuk lingkaran pelacakan penyandang kontak erat petugas dinas kesehatan (dinkes). ‘’Karena saya tidak langsung mendekat saat jenazah diurus,’’ kata WH Selasa (1/9). WH bercerita, sebagian warga langsung takziah begitu mendengar kabar IH tutup usia 20 Agustus lalu. Kala itu, warga tidak tahu sama sekali mengenai penyebab bos bank swasta itu meninggal. Apalagi, pihak keluarga juga tidak menceritakan riwayat penyakit yang diderita. ‘’Warga tidak terpikirkan kalau korona,’’ ujarnya. Ketika mengetahui berita IH positif korona, WH pun panik. Terutama ketika banyak tetangganya di-swab. Tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan dirinya tertular meski posisinya berjauhan dengan jenazah. Belum lagi sempat berinteraksi dengan banyak saudara pascatakziah. ‘’Saya khawatir sekali,’’ ucapnya. Mewakili warga, WH menyayangkan keputusan pihak keluarga dan rumah sakit tempat merawat IH yang menyepakati pemakaman tanpa prosedur Covid-19. Jenazah tidak dimasukkan dalam peti dan dikuburkan petugas khusus ber-hazmat. Kendati statusnya masih probable. ‘’Tentu dirugikan. Warga kerepotan karena ada pembatasan sosial. Tetangga desa juga waswas dengan kami,’’ ungkapnya. Supangat, kepala desa tempat tinggal IH, mengaku kerepotan akibat kasus positif warganya itu. Sebab, salah seorang perangkat desa harus isolasi mandiri. Anak buahnya itu kepala dusun IH. ‘’Tapi, tidak sampai mengganggu pelayanan di kantor desa,’’ ujarnya. (fat/c1/cor)

MAGETANJawa Pos Radar Magetan – Persebaran Covid-19 kini berada di ambang pintu ring satu Pemkab Magetan. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Dinkop-UMKM) Parminto Budi Utomo harus di-swab test karena punya riwayat kontak erat dengan pasien positif korona.

Pasien itu menjadi narasumber acara pelatihan rias pengantin yang dihelat dinkop-UMKM di gedung Korpri 14–15 Agustus. Pemateri itu ketahuan terinfeksi dua pekan berselang. ‘’Terkonfirmasi positif Covid-19 tiga hari lalu (Sabtu, 29/8),’’ kata Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan Didik Setyo Margono.

Selain Parminto, 14 aparatur sipil negara (ASN) harus menjalani pemeriksaan serupa kemarin dan Senin (31/8). Perinciannya, enam anak buah Parminto; lima dari dinas tenaga kerja (disnaker); dan tiga dari dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga (disdikpora). ‘’Kedua organisasi perangkat daerah (OPD) itu (disnaker dan disdikpora, Red) ikut pelatihan karena punya keterkaitan dengan tema acara,’’ ujarnya.

Didik menyebut, jumlah orang terlibat acara pelatihan mencapai 80. Jumlah puluhan itu terbagi empat pihak. Yakni, narasumber, model praktik rias, peserta, dan ASN selaku pendamping. Selain ASN, model rias sebanyak 36 juga diambil sampel lendir tenggorokan atau hidungnya kemarin. Tes usap harus dilakukan karena berinteraksi langsung dengan pemateri. ‘’Kalau peserta tidak dites swab karena sebatas mengamati. Tidak sampai berinteraksi dengan narasumber,’’ paparnya.

Khusus peserta hanya melakukan pemeriksaan uji cepat Covid-19. Bila hasilnya reaktif dilanjutkan dengan swab di puskesmas tempat tinggal masing-masing. ‘’Hasil swab keluar tiga sampai lima hari. Selama itu, semuanya (pihak terlibat acara pelatihan, Red) melakukan isolasi mandiri,’’ ucap Didik. (odi/c1/cor)

Acara Pelatihan Rias Bukan Bahan Evaluasi

KANTOR dinkop-UMKM di-lockdown mulai kemarin. Bupati Suprawoto meliburkan pelayanan untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19. ‘’Kapan lockdown dibuka, melihat perkembangan kasus. Khususnya hasil uji swab,’’ katanya.

Kang Woto, sapaan akrab Suprawoto, mengatakan, acara pelatihan rias pengantin tidak akan dijadikan bahan mengevaluasi kegiatan kemasyarakatan. Terutama yang dihelat oleh organisasi perangkat daerah (OPD). Menurut dia, temuan pasien positif korona dari acara pertengahan bulan lalu itu hanya kebetulan. ‘’Yang terpenting setiap kegiatan selalu menjalankan protokol kesehatan,’’ ujarnya.

Dia menyebut, program dan kegiatan OPD tidak boleh mandek di masa transisi adaptasi kebiasaan baru (AKB). Pekerjaan harus berjalan seperti biasa. ‘’Dengan menerapkan protokol kesehatan,’’ tegasnya. (odi/c1/cor)

Warga Dibikin Repot

WH, tetangga IH, pasien ke-198 yang meninggal karena Covid-19, bersyukur. Meski mendatangi pemakaman direktur Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Kawedanan, Magetan, itu, dia tidak masuk lingkaran pelacakan penyandang kontak erat petugas dinas kesehatan (dinkes). ‘’Karena saya tidak langsung mendekat saat jenazah diurus,’’ kata WH Selasa (1/9).

WH bercerita, sebagian warga langsung takziah begitu mendengar kabar IH tutup usia 20 Agustus lalu. Kala itu, warga tidak tahu sama sekali mengenai penyebab bos bank swasta itu meninggal. Apalagi, pihak keluarga juga tidak menceritakan riwayat penyakit yang diderita. ‘’Warga tidak terpikirkan kalau korona,’’ ujarnya.

Ketika mengetahui berita IH positif korona, WH pun panik. Terutama ketika banyak tetangganya di-swab. Tidak bisa tidur memikirkan kemungkinan dirinya tertular meski posisinya berjauhan dengan jenazah.  Belum lagi sempat berinteraksi dengan banyak saudara pascatakziah. ‘’Saya khawatir sekali,’’ ucapnya.

Mewakili warga, WH menyayangkan keputusan pihak keluarga dan rumah sakit tempat merawat IH yang menyepakati pemakaman tanpa prosedur Covid-19. Jenazah tidak dimasukkan dalam peti dan dikuburkan petugas khusus ber-hazmat. Kendati statusnya masih probable. ‘’Tentu dirugikan. Warga kerepotan karena ada pembatasan sosial. Tetangga desa juga waswas dengan kami,’’ ungkapnya.

Supangat, kepala desa tempat tinggal IH, mengaku kerepotan akibat kasus positif warganya itu. Sebab, salah seorang perangkat desa harus isolasi mandiri. Anak buahnya itu kepala dusun IH. ‘’Tapi, tidak sampai mengganggu pelayanan di kantor desa,’’ ujarnya. (fat/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close