Kencing Tikus Telan Dua Korban Jiwa

94

PACITAN – Memasuki masa panen padi dan pengujung musim penghujan, hama tikus kian merajalela. Tak hanya menggerus produksi pertanian, namun juga berbahaya bagi kesehatan manusia. Pasalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat penderita leptospirosis kian meningkat. Bahkan, hingga meninggal dunia. ‘’Kami mulai siaga,’’ kata Kepala Dinkes Pacitan Eko Budiono kemarin (27/3).

Berdasarkan catatan dinkes, hingga pertengahan Maret, terdapat 18 kasus suspect penyakit yang ditularkan tikus ini. Di antarannya terdapat di wilayah Tulakan, Pringkuku, dan beberapa puskesmas lain di Pacitan. Bahkan, dua penderita di antaranya meninggal dunia akibat bakteri yang bersarang di kencing tikus itu. ‘’Kasusnya karena terlambat berobat, padahal pengobatannya sederhana,’’ ujarnya.

Eko menyebut penyebaran penyakit leptospirosis tak lepas dari musim penghujan. Bakteri tersebut hidup dalam tubuh hewan perantara seperti tikus, kuda, hingga babi yang dikeluarkan melalui urine. Cairan kencing tersebut rawan jadi media penularan kepada manusia.

Biasanya, di genangan air atau mengendap di tanah. Untuk masuk ke tubuh manusia melewati perantara luka. ‘’Lewat rangen (kutu air, Red) atau kulit kaki pecah-pecah dan luka lain. Umumnya para penderita punya riwayat kontak dengan tempat-tempat yang agak kotor. Atau yang dimungkinkan jadi tempat hidup tikus,’’ jelasnya.

Leptospirosis wajib dikenali dengan baik. Pasalnya, gejalanya tidak jauh beda dengan penyakit lain seperti demam tinggi. Jika demam lebih tujuh hari wajib diwaspadai. Biasanya demam berlanjut dengan munculnya gejala bintik kuning pada kulit. Setelah itu, kondisi penderita tampak berangsur membaik. Padahal, kondisi itu merupakan tanda masuk ke fase kedua yang notabene fatal. ‘’Pada fase kedua, infeksi penyakit bisa menjalar ke organ vital. Penderita bisa mengalami gagal ginjal sampai radang selaput otak (meningitis, Red),’’ terangnya.

Berkaca dari riwayat para penderita, Eko mengimbau masyarakat lebih waspada. Pasalnya, di Pacitan penyakit tersebut tergolong rawan terjadi di beberapa lokasi. Seperti di Kecamatan Tulakan dan Pringkuku. Warga yang kerap kontak dengan tempat kotor diharapkan sudi melindungi diri menggunakan alas kaki dan sarung tangan.

Rencananya, melalui puskesmas setempat, pihaknya bakal memantau area sekitar penderita guna meminimalkan penyebaran penyakit. ‘’Kami akan dropping sabun, dan memantau digunakan masyarakat atau tidak,’’ katanya.

Semakin bertambah jumlah tikus, kasus leptospirosis berpontensi meningkat. Terkait pemberantasannya, Eko menyebut sulit. Pasalnya, tak hanya ditemukan di rumah, tikus juga banyak dijumpai di sawah. Guna mengurangi risiko penyakit ini, warga harus menggiatkan pola hidup sehat. ‘’Kami titik beratkan peningkatan kebersihan diri dan rumah, agar tikus tidak masuk rumah,’’ pungkas Eko. (gen/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here