Kenangan Ismail Menyiarkan Ajaran Islam di Desa Tanjungsari, Tempat Tinggalnya

221

Ustad Ismail punya peran penting untuk desa kelahirannya Desa Tanjungsari, Kecamatan/Kabupaten Pacitan. Memberikan siraman rohani kepada pekerja seks komersial (PSK) dan menggerakkan warga salat berjamaah.

—————————

SUGENG DWI, Pacitan

AWAL 1990-an, kawal Tanggul Tanjungsari di Desa Tanjungsari, Kecamatan/Kabupaten Pacitan diserbu puluhan pekerja seks komersial (PSK). Perempuan berpakaian seksi mangkal di warung sekitar hingga mengundang kedatangan pria hidung belang. Tanggul berubah menjadi lokalisasi hingga membuat warga desa setempat resah. Sepuluh tahun berselang, pemkab menutup lokasi tersebut. Namun, sebelum penertiban itu dilakukan, ustad Ismail sudah rajin memberikan siraman rohani kepada para wanita tuna susila (WTS) di sana. ‘’Setiap bulan menggelar pertemuan dengan para WTS,’’ kata Ismail, salah seorang ulama Desa Tanjungsari.

Agenda siraman rohani muncul dari pemikiran atas keresahan desa kelahirannya dijadikan tempat prostitusi. Setiap malam ada belasan kupu-kupu malam menjajakan diri di sepanjang tepi tanggul. Wejangan kerohanian dipandang sebagai cara yang ampuh agar para PSK itu menjauhi zina hingga praktik prostitusi berhenti. Beberapa perempuan luluh. Berhenti menjajakan diri dan menikah. ‘’Kesulitannya adalah mereka tidak percaya diri untuk berhenti. Banyak yang curhat karena menganggap tidak ada pria yang mau dengan PSK,’’ ujarnya.

Selain urusan penyadaran WTS, Ismail juga konsen dengan meramaikan aktivitas salat jamaah di masjid. Sebab, masing-masing masjid di lima dusun desanya tidak ubahnya bangunan kosong. Jarang sekali ada warga yang datang setiap kali azan berkumandang. ‘’Dulu jamaahnya sedikit, hanya satu saf salat,’’ kenang pria 83 tahun tersebut.

Perjuangannya menggerakkan warga datang ke masjid ketika diberi mandat sebagai ketua pembinaan pengalaman agama (P2A). Tiada lelah dan cerewet mengajak warga salat berjamaah dengan memasuki satu persatu rumah warga. Selain salat, mantan kepala MA Muhammadiyah Ketro Kebonagung, itu juga mengajak warga bersih-bersih masjid yang kumuh. ‘’Juga saya usulkan perbaikan yang dikerjakan secara gotong-royong,’’ ujarnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here