Kemenag Janji Beri Edukasi Kebersihan Lingkungan Ponpes

47

MADIUN – Kemenag Kabupaten Madiun tidak menampik bila edukasi kebersihan lingkungan di pondok pesantren (ponpes) belum maksimal. Perlu diberikan sosialisasi dan pembinaan dengan menggandeng dinas kesehatan. ‘’Dugaan keracunan masal itu bisa menjadi pembelajaran pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,’’ kata Muhammad Tafrikhan, kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Kabupaten Madiun.

Namun begitu, Tafrikhan tetap mengapresiasi peranan pesantren dalam mengelola dan menjaga kebersihan lingkungannya. Sebab, rata-rata telah memberlakukan pola konsumsi sehari tiga kali ketika pagi, siang, dan malam. Koki pun sudah paham jangka waktu pembusukan atas menu makanan yang bakal dihidangkan. Persoalannya, terkadang santri tidak bisa tepat waktu dalam menyantapnya. Sebagai contoh, tidak bisa sarapan karena waktunya mepet jam belajar. Sehingga baru bisa disantap siangnya. Pengurus yang mengetahui hal itu memberikan teguran. Meski waktu pembusukan makanan cukup lama. ‘’Kami segera rapat mencari solusi guna menghindari kasus serupa terulang di kemudian hari,’’ ujarnya.

Dinas Kesehatan Jawa Timur menangkap problem tidak bersihnya sebuah lingkungan memicu terjadinya sakit perut masal. Dalam setahun, rata-rata terjadi 70–80 kasus keracunan di Jatim. ‘’Jumlah korbannya mulai belasan hingga puluhan,’’ kata ahli surveilans dan epidemiologi Dinkes Jatim Suradi kala meninjau santri Ponpes Babussalam, Desa Mojorejo, Kebonsari, Senin lalu (11/2).

Meski beda jumlah penderita, ada kesamaan tempat dan status penderita. Itu hasil penelitian yang dilakukan lembaganya atas laporan kejadian keracunan di berbagai daerah. Kecenderungannya sering dialami santri ponpes dan warga yang menghadiri hajatan besar. ‘’Karakteristik dan indikasi penyebab hampir sama seperti bakteri Salmonella dan E.coli,’’ ujarnya.

Hasil cek lapangan dinkes mengarah pada problem higienitas saat proses pengolahan makanan. Kecenderungan memasak dalam porsi besar dengan waktu sebentar membuat aspek kebersihan kerap terlupakan. Apalagi pengolahannya dikerjakan bersama warga lain alias rewang. Dalam proses itu, tentu tak dapat diketahui sejauh mana tingkat kebersihan anggota tubuh warga yang ikut serta proses dapur tersebut. ‘’Tuan rumah tidak tahu kondisi tangan yang memasak itu sudah bersih atau belum,’’ bebernya.

Cara penghidangan makanan pun cenderung tidak higienis. Misalnya, makanan yang sudah jadi dibiarkan di lantai. Tidak diberi penutup sampai nanti dibagi-bagikan ke para santri maupun tamu undangan hajatan. Porsi besar juga riskan melebihi masa inkubasi. Terjadi pembusukan makanan yang mengakibatkan munculnya berbagai bakteri. Sebab, dibiarkan lebih dari enam jam sejak mulai diolah hingga dikonsumsi. ‘’Misalnya, Salmonella yang mudah terkontaminasi pada daging dan telur,’’ ucap Suradi. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here