Pacitan

Pedagang Pasar Tulakan Harus Berjuang Sendiri Hadapi Eksekusi

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Pedagang Pasar Tulakan yang buka lapak kembali ke lahan sengketa harus berjuang sendiri menghadapi eksekusi. Sebab, Pemkab Pacitan sudah lepas tangan. Alasannya, sengketa tersebut dimenangkan pihak penggugat Joko Prabanto Cs. Sedangkan Pemkab Pacitan dan pedagang selaku tergugat kalah.

Namun, kedua pihak tergugat menyikapi berbeda. Pemkab menjalankan putusan Mahkamah Agung (MA) dengan membongkar aset di atas lahan tersebut. ‘’Soal pedagang kembali lagi itu hak mereka. Nanti soal hukuman pedagang dengan pengadilan, bukan dengan kami lagi,’’ kata Kepala Bagian Hukum Setkab Pacitan Deny Cahyantoro Jumat (9/8).

Menurut dia, pemkab sudah menjalankan tanggung jawabnya. Mencari lokasi tempat berdagang jika dilakukan penggusuran. Itu dilakukan dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag). Pedagang sudah ditawari pindah ke Pasar Induk Tulakan, Pasar Polowijo, atau menyiapkan tempat sendiri. ‘’Kami tidak akan membongkar dan meminta mereka pergi dua kali. Setelah mencarikan tempat, kewajiban kami selesai,’’ ujarnya.

Terkait alasan pedagang bertahan lantaran bukti-bukti yang dimiliki kuat, pihaknya tidak bisa menilai. Menurut dia, di persidangan semua bukti sudah disampaikan. Mulai kronologi seperti yang disampaikan pedagang, persil desa, batas sertifikat, dan lainnya. Kalau bukti tersebut kuat, tentu akan menang. Pun sebaliknya. ‘’Kami upayakan membuat ”lagu” baru dalam gugatan ini,’’ imbuhnya.

Sedangkan desakan pihak Joko Prabanto Cs agar pemkab turun tangan menangani kembalinya pedagang ditolak. Alasannya, pemkab sudah menjalankan putusan. Sedangkan kembalinya pedagang bukan kewenangan pemkab lagi. Dia pun mempersilakan jika penggugat mengajukan eksekusi ke Pengadilan Negeri (PN) Pacitan. Pihaknya tidak ingin debat kusir. ‘’Kalau mau eksekusi, silakan,’’ tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, pedagang Pasar Tulakan kembali buka lapak di lahan sengketa yang sebelumnya ditinggalkan. Lapak beralas dan beratap terpal dengan penyangga bambu didirikan. Mereka bakal bertahan hingga eksekusi dilakukan. Bahkan hingga tetes darah terakhir. (odi/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close