Kematian Bocah Desa Beran Sisakan Tanda Tanya

541

NGAWI – Tanda tanya besar melingkupi kematian Ayunda. Bocah delapan tahun asal Desa Beran, Ngawi, itu meregang nyawa setelah divonis terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Ayunda meninggal sehari setelah dinyatakan positif DBD. ‘’Meninggal di rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya kena tipus,’’ kata Dedi Saputro,  ayah Ayunda, kemarin (6/1).

Pria 35 tahun itu sama sekali tidak menyangka bahwa Ayunda meninggal karena DBD. Pasalnya, rentang waktu antara vonis DBD dan meninggalnya putri kesayangannya itu amat dekat. ‘’Jumat (4/1, Red) dinyatakan kena DBD, besoknya meninggal,’’ ujar Dedi sembari menyebut Ayunda sebelumnya dirawat di rumah sakit lain lantaran divonis kena tipus.

Dedi mengaku cukup paham seputar gejala DBD. Di antaranya, munculnya bintik-bintik kemerahan dan penurunan kadar trombosit. ‘’Hasil laboratorium, trombosit anak saya normal. Tidak ada bintik-bintik merah juga di badannya,’’ ungkapnya.

Tiga hari dirawat akibat tipus, lanjut dia, kondisi Ayunda sempat membaik. Namun, kekhawatiran Dedi dan keluarga memuncak pada Jumat malam (4/1). Yakni, sesaat setelah Ayunda pindah rumah sakit. ‘’Dicek darah, trombosit anak saya turun drastis. Tapi, tidak ada bintik-bintik merah di badannya,’’ terangnya.

Salah seorang anggota keluarga yang golongan darahnya cocok dengan Ayunda segera mendonorkan darahnya. Kendati demikian, nasib berkata lain. Putri sulung Dedi tersebut meninggal dunia Sabtu (5/1) pukul 14.40. ‘’Sempat kejang-kejang kurang lebih 30 menit. Tapi, sampai meninggal tidak ada bintik-bintik merah juga,’’ sebutnya.

Terpisah, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Ngawi Djaswadi belum bisa memastikan penyebab kematian Ayunda. Pun, dia menyebut sejauh ini belum ada laporan resmi ke mejanya. ‘’Secepat mungkin akan kami tindak lanjuti. Akan kami minta laporan dari pihak rumah sakit yang bersangkutan,’’ janjinya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here