Ngawi

Keluarga Subadhar Jaring Rezeki dari Dunia Fotografi

NGAWI – Menahun keluarga Subadhar akrab dengan kamera. Suami, istri, dan anak kompak menjaring rezeki dari profesi sama, fotografer. Bagaimana suka dukanya?

Sri Maryuni serius menghadap layar komputer. Sedangkan Subadhar sibuk mengutak-atik lensa kamera. Sementara, Mia Septiana duduk santai mengamati hasil jepretannya di dalam DLSR. ‘’Ya seperti ini kesehariannya,’’ ungkap Sri tanpa beranjak dari bangkunya.

Pasutri sekalian anaknya itu memang penyuka dunia fotografi. Sampai-sampai, rumahnya di Dusun Jambe Kidul, Desa Ngale, Paron, sudah seperti museum kamera. Di dinding kayu terpajang foto Sri dan Badhar –sapaan Subadhar- bersama rekan komunitas fotografinya.

Bergeser ke dinding samping, tertata rapi deretan kamera keluaran lama. Pun, tak sedikit DSLR-nya. Asbak di meja dari lensa kamera bekas semakin mengukuhkan keluarga tersebut benar-benar penggila seni mengatur cahaya. ‘’Itu (asbak, Red) dari lensa yang sudah rusak,’’ ujar Sri.

Berbagai job –mayoritas pernikahan– dilakoni Sri dan Badhar. Dari situ pula, rupiah masuk kantong. Lebih-lebih, saat musim mantenan. Selain jasa pemotretan, pasutri itu juga melayani penyewaan kamera. ‘’Yang jelas sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,’’ ungkapnya.

Sri dan Badhar akan lebih teliliti saat ada peranti fotografi yang rewel. Kalau sudah tidak bisa diperbaiki, jalan satu-satunya adalah membeli yang baru. ‘’Keuangan saya yang ngurus. Kalau tidak begitu bisa habis dipakai ngopi suami,’’ selorohnya.

Keseharian pasutri itu benar-benar tidak lepas dari urusan foto. Mulai membidik gambar, mengedit, sampai mencetak. Tak ketinggalan Mia, putri semata mayang Sri dan Badhar. Saat ramai job, tak jarang ibu-anak duet jeprat-jepret. ‘’Mau bagaimana lagi, anak juga suka foto-foto,’’ kata Sri.

Berbagi tugas diterapkan Sri dan Badhar. Satu memotret, satunya lagi kejatah mengedit. Saat itulah kadang muncul perselisihan kecil lantaran perbedaan persepsi. Keduanya tak jarang eyel-eyelan saat memoles hasil jepretan di komputer. ‘’Suami lebih ke teknik editing, kalau saya cenderung ke seni gitu,’’ ungkapnya.

Keseharian orang tua yang tak lepas dari kamera, membuat Mia ikut-ikutan kepincut. Gadis 16 tahun itu tak jarang duet dengan ibunya memotret di acara mantenan. ‘’Senang rasanya bisa memfoto dan jadinya bagus. Kadang tanya-tanya juga ke ayah-ibu cara-caranya,’’ ujar Mia. ***(isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close