Ponorogo

Kompaknya Komunitas TS Teng Teng Bul

Motor jadul Suzuki TS tetap eksis hingga saat ini. Komunitas TS Teng Teng Bul Ponorogo mewadahi peggemar motor trail ini. Bagaimana keseruan kegiatan dari komunitas ini?

———————

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

SUARA knalpot nyaring terdengar di pelataran parkir sebuah kafe di kawasan Jalan Barong, Ponorogo. Satu per satu pemilik motor itu turun. Semua motornya klasik. Jenis trail Suzuki TS. Usai memarkir motornya, mereka lantas masuk dan memesan secangkir kopi hitam. ’’Kami dari member TS Teng Teng Bul,’’ kata David Surya Pratama, salah seorang perintis komunitas TS Teng Teng Bul.

Sore itu, ada banyak yang dibahas. Salah satunya pemasangan pelat nomor polisi (nopol). Ya, knalpot motor Suzuki ini memang unik. Jika motor lainnya knalpot berada di bawah, tidak dengan trail yang satu ini. Berada di atas dekat jok motor. Sehingga, dipastikan bakal mengenai pengendara motor yang berada di belakangnya. ’’Kalau berhenti di perempatan jalan, kalau laki-laki tanya dijual enggak  gitu. Tapi, kalau emak-emak ya dipaido (diolok-olok, Red) karena asap,’’ selorohnya.

Tidak heran komunitas ini diberi nama TS Teng Teng Bul. Berasal dari suara khas motor terengteng teng teng dan bul yang diartikan dalam kebul (bahasa Indonesia dari asap). TS Teng Teng Bul didirikan pada 2018 silam. Berawal dari Eko Nurhadi, pehobi trail, ini tertarik dengan Suzuki TS dan memutuskan untuk membelinya.

Mengajak serta rekan-rekannya yang juga penggemar Suzuki TS berkumpul bersama. Kecintaan  Eko pada motor ini karena kebetulan jenis kendaraan patroli dalam bertugas juga memakai Suzuki TS. ’’Grup TS awalnya terbentuk karena ada beberapa teman yang suka saling ejek di grup WhatsApp, semua kumpul jadi komunitas kecil,’’ jelasnya.

Diakuinya, kenyamanan Suzuki TS tidak kalah dengan motor trail lain. Performa ketika dinaiki dengan bobot yang berlebih. Dirasakan motor tetap nyaman. Permasalahan yang acap mengganggu performa motor adalah masalah karburator. ’’Dengan adanya komunitas ini kita bisa saling sharing,’’ paparnya.

Lantaran termasuk kategori motor jadul, mencari onderdil lawas juga menjadi tantangan tersendiri. Inilah yang menjadi alasan sebagian member setia dengan Suzuki TS. Berbeda dengan pabrikan motor lainnya. ’’Seninya itu berburu (spare part). Tapi, pamornya dengan motor baru nggak kalah dengan yang lain,’’ ungkap Awan Galih, member lainnya.

Pernah ada member yang hunting spare part hingga Palembang. Lantaran terbentur waktu, maka mencari spare part yang pas diganti ke lapak online. Harganya juga tidaklah murah. Mencapai ratusan ribu. Juga tidak sembarangan memilih market place. ‘’Tapi, semua onderdil Suzuki TS itu orisinal kok,’’ ungkapnya.

‘’Soal perawatan sama seperti perawatan motor umumnya. Tapi, yang perlu diperhatikan adalah oli motor. Sebagai pelumas untuk semua bagian mesin. Motor juga harus sering dipanasi,’’ ujarnya. ****(ota/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close