Kekeringan, Sumur Lawas Jadi Rebutan

152

PACITAN – Sempat turun hujan, namun nyatanya hal itu tak berdampak signifikan bagi warga Pacitan. Pasalnya, di beberapa lokasi, masyarakat masih kesulitan air bersih. Seperti di Desa Jetak, Kecamatan Tulakan, sebagian warga mesti mengantre untuk mendapatkan air bersih. Pasalnya, sumber air milik warga kini mengering. “Ya begini ini kalau musim kemarau. Setiap hari antre. Di rumah nggak ada air,” kata Sumirah, salah seorang warga Dusun Meling, Desa Jetak, kemarin (30/9).

Sumirah menyebut kondisi seperti itu sudah dialaminya hampir setiap musim kemarau. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, dia mesti mengambil air di sumur umum desa. “Di sini masih ada airnya, walaupun tak banyak karena harus dibagi dengan yang lain,” ujarnya.

Setiap hari dia harus berjalan dari rumah membawa jeriken dan ember. Meski sumber air berada tak jauh dari tempatnya tinggal, namun 25 liter tiap harinya mesti dijinjing menyusuri jalan desa. Tak hanya itu, untuk mengantisipasi agar tak kehabisan, dia kerap antre mulai pukul 14.00. “Kalau datangnya sore, jam tiga atau empat di sini sudah ramai,” tuturnya.

Winarto, warga lainnya, mengungkapkan bahwa sulitnya air bersih sudah dialaminya sejak tiga bulan lalu. Tak hanya dari Meling, warga Dusun Godek pun sebagian ikut mencari air di sumur desa itu. Meski menjadi andalan saat kemarau, bukan berarti sumur di bawah rindangnya pohon itu layak. Pasalnya, beberapa minggu terakhir ini debit air semakin mengecil. Ditambah warga yang mengantre semakin banyak. “Memang belum mengering, tapi khawatir juga kalau nanti sewaktu-waktu habis,” ujarnya.

Jika biasanya dalam sekali timba dia bisa mendapatkan satu penuh ember, kini hasil yang didapat hanya seperempatnya. Pun lantaran air semakin dangkal, tak jarang air yang didapat berwarna kecokelatan. Ditambah daun dari pohon juga kerap masuk ke dalam sumur.

Tak hanya digunakan untuk mencuci baju dan perabotan dapur, sebagian warga juga mengandalkan air sumur untuk keperluan mandi. Pun, tak jarang warga mandi dan mencuci langsung di sekitar sumur. Sementara untuk kebutuhan konsumsi, sebagian warga memilih membeli air. Di samping menggunakan air bantuan dari BPBD dan relawan. “Sudah ada bantuan air, tapi karena hanya beberapa hari sekali, nggak akan mencukupi untuk semua kebutuhan,” ungkapnya. (mg6/c1/rif)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here