Kejar Tayang Peningkatan Jalan, DPUPR Nekat Anggarkan Proyek Miliaran

120

MAGETAN – Gara–gara pokja Unit Layanan dan Pengadaan (ULP) macet, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magetan terkena imbasnya. Dua pekerjaan peningkatan infrastruktur jalan yang sejatinya telah teranggarkan APBD penetapan tak terserap. Terpaksa dianggarkan kembali pada perubahan anggaran keuangan (PAK) 2018 ini yang pengerjaannya pun baru direalisasi akhir tahun. ‘’Karena lelang telat, jadi pengerjaannya kami barengkan sekalian perubahan,’’ kata Kabid Bina Marga DPUPR Magetan Muchtar Wahid.

Dua pekerjaan itu meliputi peningkatan jalan Glodog–Mlati. Anggaran yang disiapkan yakni mencapai Rp 1,9 miliar. CV Endvisoft Solution memenangkan lelang yang diikuti 28 peserta. Untuk peningkatan jalan Kentangan-Kembangan senilai Rp 919 juta dikerjakan CV Dwi Atmaja. ‘’Sekarang sudah tanda tangan kontrak, tinggal dikerjakan,’’ ujarnya.

Di sisa waktu yang kurang 15 hari, DPUPR masih menaungi lima pekerjaan lain. Tiga di antaranya yakni bersumber dari sisa dana alokasi khusus (DAK) 2017 lalu. Sisa DAK tahun lalu bakal digunakan untuk optimalisasi dan rehabilitasi jalan Parang–Turus, Tamanarum–Lembeyan, dan Tawanganom–Turi (Bawean). ‘’Masing-masing kami anggarkan Rp 1,9 miliar,’’ terangnya.

Sedangkan dua pekerjaan lain yang harus dikebut yakni optimalisasi dan peningkatan jalan Sarangan A–Sarangan B. Pagu yang disiapkan DPUPR sebesar Rp 431,6 juta. Sementara untuk optimalisasi peningkatan infrastruktur jalan Sukowidi–Pule sebesar Rp 355,2 juta. Total, untuk semua pekerjaan fisik yang dikerjakan DPUPR pada PAK 2018 ini mencapai Rp 9,3 miliar. ‘’Karena beberapa pekerjaan ada masalah. Terpaksa baru dikerjakan sekarang,’’ jelasnya.

Muhtar menguraikan, semua pekerjaan itu tidaklah berat. Hanya hotmix pada jalan yang sudah dilebarkan. Sehingga dia berani mengerjakan proyek kakap itu pada pengujung tahun. Muhtar yakin, semua pelaksana dapat mengerjakan hotmix jalan sesuai kontrak yang sudah ditandatangani. Jika telat, pelaksana akan dikenai denda sesuai bobot pekerjaan. ‘’Aturannya sudah jelas, jika tidak sesuai dengan kontrak, tinggal didenda,’’ tegasnya.

Sebelum mendaftarkan pekerjaan untuk dilelang, Muhtar juga sudah survei kapasitas dan kemampuan asphalt mixing plant (AMP). Penghitungan juga sudah dilakukan dengan cermat untuk meminimalkan keterlambatan penyelesaian pekerjaan. ‘’Waktunya masih mencukupi. Makanya kami berani (mengerjakan, Red),’’ ucapnya. (bel/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here