Pacitan

Kehidupan Paijem-Mispan Penuh Keterbatasan

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Selimut yang menutupi tubuh renta Paijem naik turun. Seiring sengal napas perempuan berusia lebih dari 100 tahun itu terbaring di atas dipan kayu tanpa kasur. Mispan yang berada tidak jauh dari sana lantas membetulkan posisi kain tipis membalut tubuh ibunya itu. ‘’Saya merawat sendirian sejak bapak meninggal beberapa tahun lalu,’’ kata pria 70 tahun itu Senin (11/11).

Pasangan ibu dan anak itu tinggal di Dusun Krajan, Jatigunung, Tulakan. Tempat tinggalnya yang seluas sekitar 150 meter jauh dari kata sederhana. Berlantai tanah dengan dinding kayu. Karena faktor usia, Paijem nyaris menghabiskan harinya dengan berbaring di dipan. Dalam posisi tidur itu pula, Mispan menyuapi makan dan membersihkan tubuhnya dengan sapuan kain basah. ‘’Setiap hari, sebagai pengganti mandi,’’ ujarnya.

Mispan pula yang menyiapkan makanan dan membersihkan dipan tempat tidur ibunya. Yang membuat trenyuh, dia melakukan aktivitas itu dengan kondisi fisik tidak sempurna. Kaki kirinya lebih kecil ketimbang kanan. Untuk berpindah tempat dari kamar menuju dapur, dia berjalan dengan terpincang-pincang. Sedangkan untuk berpindah ke tempat lebih dekat, badannya biasa ditopangkan ke sebuah kursi. ‘’Sejak kecil sudah begini,’’ ungkapnya.

Selain fisik, Mispan tidak bisa berbicara jelas. Belum lagi bagian punggungnya sebelah kanan atas terdapat benjolan sekepalan orang dewasa. Dia tidak tahu apa penyebab benjolan itu. Selama ini dia tidak pernah berobat ke dokter. Kalau dilanda pusing, dia membeli obat dari warung. ‘’Untuk makan sehari-hari saja susah, apalagi ke dokter,’’ ungkap Mispan.

Dia mengungkapkan, keberlangsungan hidupnya berasal dari bantuan. Misalnya, sembako dari pemerintah yang didapat empat bulan sekali atau uluran tangan dermawan. Jumlahnya yang terbatas membuatnya harus berhemat. ‘’Karena kondisi fisik ini tidak ada yang mau mempekerjakan saya,’’ ucapnya. (den/c1/cor)

Puluhan Ribu Keluarga di Pacitan Miskin

POTRET kemiskinan di Pacitan tidak hanya tergambar dalam kehidupan Paijem dan Mispan. Di luar sana, ribuan jiwa hidup di bawah garis masalah sosial. Pemkab setempat pun telah berupaya mengentaskan mereka menuju taraf hidup yang lebih layak. ‘’Saat ini total ada 47.888 keluarga penerima bantuan,’’ kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Pacitan Sunaryo Senin (11/11).

Jumlah tersebut terbagi menjadi dua klasifikasi. Sebanyak 45.671 keluarga masuk daftar penerima bantuan pangan non-tunai (BPNT). Angka itu muncul berdasar penghitungan Kementerian Sosial (Kemensos). Sementara 2.217 keluarga lainnya luput dari penghitungan tersebut. Namun, pemkab setempat mencatat mereka sebagai keluarga penerima manfaat melalui program pemerintah daerah. ‘’Tugas kami mengawal mereka sampai bisa mandiri,’’ ujarnya.

Sunaryo menyebut ada sekitar 12 ribu keluarga yang sudah terlepas dari status penerima bantuan. Kendati demikian, terpangkasnya angka kemiskinan tersebut bisa disebabkan berbagai hal. Antara lain, sekitar graduasi program keluarga harapan (PKH). Ada klasifikasi komponen sebagai penerima tersebut bisa lengser seiring berjalannya waktu. Seperti kategori ibu hamil yang sudah tidak akan menerima bantuan setelah melahirkan. ‘’Data kemiskinan itu dinamis. Ada juga yang masuk kategori karena bencana,’’ terangnya.

Kabid Penanganan Fakir Miskin dan Pemberdayaan Sosial Dinsos Pacitan Subiyanto Munir menyebut bahwa pihaknya juga mengalami permasalahan. Terkait keterjangkauan informasi dan ketepatan penerima bantuan. Kesulitan lainnya soal penggantian data.

Diakui, ada kasus warga tidak bisa menerima bantuan lantaran keliru ejaan nama. ‘’Wewenang seperti itu berada di tingkat pusat. Tapi, kami sudah berupaya meluruskannya dengan membuat laporan,’’ kata Subiyanto sembari menyebut anggaran untuk ribuan keluarga penerima bantuan itu tahun ini mencapai Rp 2 miliar. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close