Kehidupan Lukki Cahyono: Minim Asupan Informasi, Tak Tahu Nama Bupati

561

MADIUN – Jangan tanya siapa bupati kabupaten ini kepada Lukki Cahyono. Hidup di tengah keterbatasan membuat keluarga ini benar-benar minim asupan informasi. Alpa tentang siapa Bupati Ahmad Dawami dan Wabup Hari Wuryanto. Jangankan rupa, nama pasangan kepala daerah yang resmi dilantik 24 September 2018 itu pun masih asing di telinga. ‘’Maklum, tidak punya TV dan nggak pernah ke mana-mana,’’ kata Lukki.

Meski memiliki telepon seluler (ponsel), tidak terlalu banyak berguna. Jaringan sinyal di tempat tinggalnya sangat lemah. Pun, tak ada saluran listrik untuk mengisi daya. Setiap hari, ponsel jadul itu harus di-charge ke kampung tetangga di Desa Duren, Pilangkenceng. ‘’Sambil nunggu anak pulang sekolah,’’ ujarnya.

Pekan lalu (28/1), Lukki dan Siti harus repot-repot datang ke TK Tunas Rimba 3 di Duren, Pilangkenceng, untuk memintakan izin Ian Denis Ramadhani, anaknya, yang sakit.  Kaki bocah lima tahun itu disengat kalajengking saat hendak bersepatu persiapan berangkat sekolah. Ian yang menangis karena kondisi badannya panas dingin itu pun harus diajak. Berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer, sebelum dilanjutkan naik motor enam kilometer melintasi hutan jati. ‘’Saya juga harus charge HP (handphone) dan lampu senter. Biar sekali jalan,’’ papar pria 30 tahun itu.

Beruntungnya, sengatan kalajengking tidak berakibat fatal. Ian kembali bisa tersenyum dan tertawa di malam harinya. Sengatan di kakinya perlahan sirna usai diolesi tumbukan bawang puting. Pengobatan secara manual itu biasa dilakukan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Keluarga ini baru merujuk ke dokter jika sakit tak kunjung membaik. ‘’Tapi, kalau sakitnya malam, ditahan dulu sampai pagi baru ke puskesmas,’’ terang Lukki.

Selama ini pun, keluarga Lukki mandi dan mencuci pakaian memanfaatkan aliran sungai dekat rumah. Sedangkan untuk minum harus membeli air galon isi ulang. Bila hujan turun, airnya ditampung di bak dan ember. Selain keperluan mencuci peralatan dapur, dijadikan cadangan minum ketika stok galon habis. ‘’Kalau musim kemarau beli isi ulang terus untuk keperluan sehari-hari,’’ tuturnya.

Setiap hari Lukki dan Siti berbagi tugas dalam mengurus anak dan pekerjaan di ladang. Siti sudah bangun subuh untuk mencuci peralatan makan dan menyiapkan sarapan. Mengolah seadanya, nasi dengan lauk tempe atau telur, mi instan, hingga nasi tiwul. Sementara suaminya menyiapkan seragam dan memandikan Ian pukul 05.30. Pasangan suami istri (pasutri) itu lantas berangkat bersama ke sekolah. Lukki langsung balik rumah untuk menggarap ladang dan nantinya menjemput. Sedangkan Siti tinggal di tempat. ‘’Sambil menunggu itu, istri saya jualan sayuran hasil menanam sendiri,’’ ungkap Lukki.

Belum ada niatan Lukki untuk pindah tempat tinggal karena alasan pekerjaan. Dulu sempat tebersit mencari rumah kontrakan di wilayah Caruban. Namun, tak ada penghasilan tetap untuk menebus kebutuhan itu. ‘’Kalau memang ada bantuan, saya ingin punya rumah tetap yang layak dan dekat ladang,’’ harapnya seraya menyebut belum pernah menerima bantuan sekalipun sembilan bahan pokok (sembako).

Endah Werdiastuti, guru kelas Ian, ikut mengomentari kondisi keluarga Lukki. Awalnya hanya menganggap keluarga kurang beruntung dengan tempat tinggal berdinding bambu. Namun, gambaran itu berubah ketika berbicara dengan Siti pada November 2018. Obrolan itu menguak bila selama ini tinggal mengucil. Pergi pulang (PP) mengantar sekolah berjalan kaki dan menyeberangi sungai. Seolah tidak percaya, dia lantas meninjau langsung dengan mendatangi rumah. ‘’Kondisinya memang memprihatinkan. Mulai keamanan, kesehatan, tidak ada cahaya, tidak ada air. Pokoknya, tidak masuk semua untuk dihuni,’’ katanya.

Hasil peninjauan itu membuat Endah akhirnya menyadari alasan di balik sikap Ian yang sulit bergaul dengan teman-temannya. Setiap jam istirahat cenderung memilih tinggal di dalam kelas ketimbang main di halaman bersama. Sosialisasi dan ikatan emosional Ian yang masih kurang diduga karena lingkungan rumah tidak mendukung. Teman bermain di rumah hanya orang tua dan binatang peliharaan seperti ayam dan kucing. ‘’Karena itu, perlu dibimbing berinteraksi dengan teman-temannya,’’ ujarnya.

Kendati demikian, Ian termasuk anak penurut dan periang. Tidak pernah mengganggu atau mengusili temannya. Juga, merengek minta dibelikan sesuatu hingga menangis selama bersekolah. Sedangkan akademik, tergolong biasa. Menggambar, misalnya, tidak ada yang menonjol ataupun kurang. Karena alasan jarak, guru kelas dan kepala sekolah menoleransi bila Ian terlambat datang. ‘’Tapi, semangatnya super sekali,’’ ungkapnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here