Kegigihan Rio Wahyu Renaldy Kibarkan 1960 Cafe & Carwash

305

MADIUN – Konsep spesial juga diusung 1960 Cafe & Carwash. Kafe dan cucian mobil di Jalan S Parman itu dikonsep industrial vintage. Bangunan dua lantai dengan dominasi dinding warna abu-abu itu sarat guratan mural.

Perabotan kafe di lantai dua juga didesain vintage. Mulai ornamen batik pada sofa, dekorasi vas bunga dan rak di beberapa sudut kafe. Tak jauh dari meja bar menggantung dua buah kaca besar berbentuk lingkaran. ‘’Orang senang ngaca. Jadi kalau lewat bisa ngaca sambil selfi,’’ kata Rio Wahyu Renaldy, owner 1960 Cafe & Carwash.

Pebisnis 27 tahun ini terbilang pandai menggali peluang. Rintisan usahanya menjadi gebrakan baru di Kota Madiun. Menawarkan dua paket pelayanan sekaligus kepada pelanggan. Semakin kesini, mereka yang nongkrong di cafe tak selalu memanfaatkan jasa cuci mobil. ‘’Sampai parkir pengunjung kafe penuh dan nggak ada tempat buat lagi. Akhirnya kafe yang tadinya buka jam 11.00 diundur jadi jam 16.00 sampai 22.00,’’ jelasnya.

Niatan menjadi seorang pengusaha sudah ada sejak kuliah. Di saat bersamaan, ayahnya juga mendamba ingin membuka usaha. Rencana awal ingin merintis di Surabaya. Lantaran harga tanah di kota pahlawan yang kelewat mahal, mulailah terpikirkan memfaatkan aset tanah di Jalan S.Parman. ‘’Waktu itu masih masih dikontrak sama jasa pengiriman barang,’’ terangnya.

Semula dia ingin membuka three in one service. Kafe, cuci mobil dan barbershop. Namun, setelah menerima saran dari orang terdekat dia fokus two in one service. Berkat saran itu pula, Rio baru memulai usaha selepas lulus kuliah ilmu komunikasi di Unair Surabaya.  Rio pun banyak mendapatkan pelajaran dari ayahnya yang seorang pebisnis properti. ‘’Saya memang hobi mencuci mobil sejak sekolah. Saya paling enggak suka lihat kendaraan kotor. Seminggu bisa cuci mobil sampai empat kali,’’ tuturnya.

Di sela kuliah, Rio kerap survey di Kota Pahlawan. Mendatangi sejumlah kafe yang mengusung konsep unik. Untuk mematangkan konsep two in one service yang telah diangankannya. Butuh waktu berbulan untuk persiapan. Singkat cerita, setelah melakukan rekrutmen, lima karyawan yang lolos seleksi justru tak ada satupun datang di hari pertama kerja. Padahal, mobil pelanggan sudah antre. Setengah jam, karyawan yang dinanti tak kunjung datang. ‘’Saya telpon dua teman untuk bantuin cuci mobil. Kami bertiga kerja nonstop dari pagi sampai malam mencuci 23 mobil. Besoknya langsung masuk angin,’’ selorohnya.

Sepekan kemudian, barulah semuanya berjalan normal. Setelah Rio mendapatkan kembali karyawan cuci mobil yang komplet. Sampai sekarang pun, Rio pantang lepas tangan dan terbiasa bekerja langsung bersama karyawan. ‘’Saya orangnya enggak bisa diam. Biasanya saya yang bagian ngelap mobil,’’ imbuhnya. (dil/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here