Madiun

Kegigihan Febriyan dan Dwi Hermansyah Belajar di Lapak Tambal Ban

Belajar bisa di mana saja. Prinsip itu dipegang Febriyan, 15, dan Dwi Hermansyah, 10. Keterbatasan fisik dan ekonomi tak membelenggu semangat keduanya untuk tetap belajar. Kakak-beradik dengan keterbatasan penglihatan itu telaten mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari lapak tambal ban di pinggir jalan.

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

TABUNG kompresor warna oranye di pinggir Jalan Suhud Nosingo, Klegen, Kartoharjo, itu sudah seperti rumah kedua bagi Lina Kurniawati sekeluarga. Sehari-hari, perempuan 36 tahun itu membuka jasa tambal ban dan jualan bensin eceran dibantu kedua putranya: Febriyan dan Dwi Hermansyah. Di masa pandemi ini, kedua putranya yang sama-sama siswa SLBN Manisrejo itu tetap bejalar sembari membantu ibunya di pinggir jalan. ‘’Kadang belajarnya di sini, kadang di rumah. Tapi seringnya di sini. Biasa bantu ibu dari subuh sampai siang (pukul 05.00-01.00, Red),’’ kata Febriyan.

Sebelum pandemi, Febriyan dan Dwi Hermansyah biasa membantu ibunya bekerja di jalan sebelum dan sepulang sekolah. Kini, selama pandemi, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di lapak tambal ban. ‘’Ikut bantu nambal dan jual bensin,’’ ujarnya.

Febriyan bersama adik dan ibunya berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00. Berangkat dengan membawa jeriken bensin dan gerobak kompresor angin. Jarak dari rumahnya sekitar 1 kilometer. Sebelum melapak, terlebih dahulu bersih-bersih dengan menyapu sepanjang tepian jalan sekitar lapakan. ‘’Mengerjakan tugasnya juga di sini karena ada ibu. Kalau di rumah tidak ada orang,’’ kata siswa kelas VIII SLBN Manisrejo itu.

Dwi juga turut menjalankan aktivitas harian di pinggir jalan sebagaimana kakaknya. Di sela membantu ibunya, siswa kelas V SLBN Manisrejo itu rajin mengerjakan tugas dari guru yang dikirim melalui grup WhatsApp. ‘’Tadi habis belajar bahasa Indonesia,’’ ujar bocah 10 tahun tersebut.

Lina Kurniawati sengaja mengajak dua buah hatinya ke lapak tambal ban untuk memudahkan pengawasan dan pendampingan selama masa pandemi. Sejak sekolah tatap muka ditiadakan selama beberapa bulan terakhir ini. ‘’Sebenarnya susah PJJ seperti ini. Karena membutuhkan pengawasan dan pendampingan ekstra. Tapi, kalau di rumah malah tidak ada yang ngawasi,’’ tuturnya.

Seperti orang tua pada umumnya, Lina mafhum pembelajaran tatap muka belum memungkinkan untuk dibuka. Karena itu, dia selalu menyempatkan waktu di sela kerja untuk membimbing kedua putranya menyimak pembelajaran kiriman sekolah dari handphone ala kadarnya. Telepon genggam pinjaman dari saudara itu kerap trouble pada bagian kamera dan baterai. ‘’Charger bolak-balik, akhirnya baterainya rusak. Nge-charge sekarang pakai desktop. Tidak bisa lama nyalanya,’’ ungkapnya.

Objek Baru Terlihat jika Jarak Sangat Dekat

Febriyan dan Dwi Hermansyah memiliki keterbatasan dalam melihat sejak lahir. Low vision membuat keduanya harus mendekatkan setiap objek yang hendak dilihat. Dengan jarak sangat dekat, sekitar 5-10 sentimeter. Karena itulah, Lina harus menyalin ulang setiap materi dan tugas yang diberikan guru dari handphone ke buku terlebih dahulu. ‘’Kasihan kalau harus membaca huruf kecil-kecil di handphone,’’ ujarnya.

Semula kedua anaknya didiagnosis katarak. Namun, setelah menjalani operasi, tak ada perubahan signifikan terhadap kedua anaknya. Hingga kini kemampuan melihat kedua putranya terbatas. Lina sudah 16  tahun bekerja sebagai tukang tambal ban dan jualan bensin. Selama masa pandemi ini penghasilannya menurun drastis. Dalam satu hari, hanya 1-2 orang yang menambalkan ban kepadanya. Keterbatasan ekonomi ini pula yang mengharuskan Hendri Utomo, suaminya, merantau ke Mojokerto. ‘’Mau bagaimana lagi,’’ ucapnya.

Harus diakui, beban orang tua mendampingi PJJ tidak ringan. Kebutuhan paket data internet meningkat. Sebelum PJJ, paket data dalam satu bulan cukup 3 gigabyte (giga). Untuk PJJ, Febriyan dan Dwi Hermansyah membutuhkan paket data hingga 6 giga. ‘’Paket enam giga itu pasti habis. Meski sudah dibantu wifi gratis saat melapak di sini,’’ pungkasnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close