Kecolongan WNA Prancis Mengajar Secara Ilegal

48
BEBER: Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo Hendriya Widjaya menunjukan kasus Dorian kepada peserta sosialiasi Kamis (13/6).

PACITAN –Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo geram. Pasalnya sempat ada warga negara asing (WNA) yang mengajar di salah satu sekolah favorit di Pacitan. Padahal WNA asal Prancis Dorian Liberkowski itu hanya mengantongi visa kunjungan. ‘’Sebelum diizinkan mengajar harus dicek dulu background-nya,’’ kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo Hendriya Widjaya Kamis (13/6).

Hendriya tak yakin Dorian seorang pengajar. Terlebih pihak sekolah yang dikonfirmasi mengakui kemampuan bahasa Inggris yang dikuasai Dorian belum cukup untuk mengajar. Belum lagi tidak adanya visa kerja. Dia khawatir hal tersebut berdampak buruk. Pihaknya khawatir kemungkinan terjadinya money laundry hingga kasus pedofilia. ‘’Itu sesuai pengalaman saya menangani kasus seperti ini,’’ ujarnya.

Menurut dia, dugaan money laundry lantaran Dorian dipekerjakan salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang pelestarian lingkungan. Setelah diselidiki ada kejanggalan. Salah satunya, kantor pusatnya bukan di Jogjakarta seperti berkas yang dilampirkan melainkan di Kendari. Sementara penanggungjawab harian di Pacitan tidak tahu menahu. Padahal dia juga mendapat gaji bulanan. ‘’Lalu uangnya dari mana?’’ tanyanya.

Sementara dugaan pedofilia lantaran sejumlah kasus di daerah lain.  Sebagian di antaranya melibatkan WNA. Saat ini Dorian sudah dipulangkan ke negaranya. Meski bisa dijerat pidana Pasal 122 Huruf a Undang-Undang (UU) 6/2011 Tentang Keimigrasian, pehobi surfing yang 19 kali kluar-masuk Indonesia ini hanya dikenai sanksi peringatan. Pihaknya melakukan pembinaan. ‘’Dia tidak akan mengulangi dan penjaminnya sudah meminta maaf,’’ ungkapnya.

Atas temuan tersebut, Hendryia meminta Pemkab Pacitan dan pihak terkait berhati-hati. Badan kesatuan bangsa dan politik (bakesbangpol), dinas pendidikan, dinas koperasi dan usaha mikro yang membidangi ketenagakerjaan dan lainnya harus aktif melaporkan dan melakukan pengawasan. ‘’Karena dampaknya tidak langsung terjadi saat ini. Tapi ke belakang, termasuk apa yang diajarkan orang asing ini,’’ tegasnya.

Penanganan kasus Dorian ini, menurut dia, jadi salah satu gebrakan agar semua pihak lebih berhati-hati. Sedangkan untuk penguatannya pihaknya juga membentuk tim pengawasan orang asing (timpora) yang anggotanya hingga pejabat tingkat kecamatan. Mulai camat, kapolsek, danramil dan lainnya. Pun organisasi perangkat daerah (OPD) lain. ‘’Kami akan bikinkan grup WA. Nanti bisa dipertanyakan apa saja tentang orang asing,’’ imbuhnya. (odi/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here