Bawang Selalu Langka saat Ramadan

115

MEJAYAN – Impor bawang putih dari Tiongkok menjadi solusi klasik atas kelangkaan komoditi itu hingga membuat harganya melambung. Kebijakan yang turut memaksa Pemkab Madiun mengajukan pasokan lima ton ke Pemprov Jawa Timur tidak lepas dari status provinsi ini yang bukan produsen. ’’Selalu langka di momen Ramadan karena bawang putih bukan komoditi utama yang disediakan petani Jatim,’’ kata Kabid Pembangunan Ekonomi Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) I Madiun Edi Wibowo Jum’at (10/5).

Menurut Edi, kapasitas produksi bawang putih di Jatim sebetulnya sudah lebih dari cukup. Artinya, barang yang dihasilkan sanggup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam setahunnya. Akan tetapi, kuantitasnya tidak akan mencukupi ketika terjadi lonjakan permintaan di momen puasa. Upaya antisipasi dengan menggerakkan penanaman komoditi tersebut secara masif bisa saja dilakukan. Namun, hasilnya diyakini tidak maksimal. Sebab, kata dia, karakteristik tanaman hortikultura itu bisa tumbuh dengan baik di kondisi dan wilayah tertentu. ’’Umumnya di dataran tinggi,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, kelangkaan bawang putih yang membuat harga melambung hingga Rp 40-an ribu per kilogram menjadi masalah nasional. Termasuk Jatim hingga dijadikan atensi Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) beberapa waktu lalu. Belasan ribu ton bawang putih telah dan bakal didistribusikan ke sejumlah daerah di Jatim yang mengalami lonjakan harga dalam pekan ini. Daerah yang sudah menerima di antaranya Kota Madiun, Kediri, Malang. ’’Karena stok terbatas, solusi darurat memang harus impor untuk menekan harga tinggi,’’ ucapnya.

Berdasar Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 20/2017 tentang Pendaftaran Pelaku Usaha Distribusi Barang Kebutuhan Pokok, bawang putih bukan termasuk kategori bahan pokok. Artinya, ketiadaan bahan tersebut bisa dicarikan alternatif komoditi lain. Edi tidak memungkiri hal tersebut. Namun, karena sudah menjadi kebutuhan banyak rumah makan, restoran, rumah tangga, pemerintah mengambil keputusan impor. ’’Solusi kebutuhan bawang putih dalam negeri,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Kemarin, Bakorwil Madiun memonitor harga bawang putih di Kabupaten Madiun. Institusi penyalur informasi untuk gubernur itu memantau stabilitas harganya di Pasar Caruban Baru. Pasar tradisional itu satu dari dua pasar yang bakal menjadi titik penyaluran barang impor Tiongkok dari permintaan pemkab setempat. ’’Bentuk pemantauan terhadap fluktuasi harga menghadapi Idul Fitri,’’ ucapnya.

Menurut Edi, harga bawang putih masih naik-turun. Meski tidak setinggi beberapa waktu lalu yang mencapai Rp 50 ribu. Melonjaknya harga kebutuhan dapur itu diprediksi akan terus turun hingga nanti H-10. Kendati demikian, pihaknya bersama pemkab dan satgas pangan bakal terus memantau gejolak harga. Mengingat ada siklus klasik peningkatan harga karena banyaknya permintaan warga. ’’Biasanya menjelang Lebaran ganti daging dan telur yang harganya merangkak naik,’’ pungkasnya. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here