Kebacut, Tiga Bulan Pasok Daging Gelonggongan

195

MAGETAN – Sepandai–pandainya tupai melompat, akhirnya terjatuh juga. Itulah peribahasa yang tepat menggambarkan kondisi Sriyono, 39, warga Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Aksinya dalam menjual daging sapi gelonggongan harus dihentikan oleh pihak kepolisian, Minggu (5/8). ’’Daging sapi gelonggongan ini akan dijual ke daerah Nganjuk,’’ kata Kasubbag Humas Polres Magetan AKP Suyatni.

Sriyono berhasil dibekuk petugas Sat Reskrim di Jalan raya Magetan–Maospati. Tepatnya di Desa Tinap, Kecamatan Sukomoro, Magetan, sekitar pukul 02.15. Saat itu, Sriyono menggunakan pikap nopol AD 1856 UW untuk mengangkut daging sapi gelonggongan tersebut. Beratnya mencapai 300 kilogram. ’’Petugas curiga dengan muatan yang diangkut itu. Lalu diberhentikan dan diperiksa ada daging sapi gelonggongan,’’ ungkapnya.

Menurut Suyatni, Sriyono sudah tiga bulan terakhir menjalankan bisnis haramnya itu. Dalam sebulan, dia bisa mengirim hingga empat kali daging sapi gelonggongan itu ke Nganjuk. Sedangkan dalam tiga bulan terakhir, dia sudah memasok Nganjuk dengan daging sapi gelonggongannya sebanyak 3 kali. ’’Harga daging yang dijual tersangka ini memang lebih murah dari daging biasa,’’ katanya.

Dari penangkapan Sriyono itu, pihak kepolisian terus melakukan pendalaman. Yakni, untuk mengungkap dugaan adanya jaringan penggelonggong sapi. Mengingat tahun lalu pihaknya juga sempat menangkap pelaku daging gelonggongan, tepatnya pada Mei 2017. Terlebih lagi, kini sudah mulai mendekati masa Lebaran kurban. ’’Kami terus dalami apakah ada jaringan penjualan sapi gelonggongan,’’ terangnya.

Atas tindakannya itu, Sriyono disangkakan pasal 62 ayat (1) UU RI 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen juncto pasal 8 ayat (1) UU RI 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau pasal 135 UU RI 18/2012 tentang Pangan. Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 2 miliar. ’’Saat ini tersangka sudah kami tahan,’’ jelasnya.

Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Magetan Santi Trisnawati mengatakan daging gelonggongan jelas berbahaya jika dikonsumsi. Sebab, kandungan air yang tinggi itu membuat daging lebih cepat busuk. Kandungan bakteri itu bisa menyebabkan bakteri jika dikonsumsi manusia. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan ada kandungan bakteri salmonella yang menyebabkan penyakit tipus. ’’Kandungan air yang tinggi itu membuat bakteri lebih cepat berkembang,’’ terangnya.

Warga harus jeli dalam memilih daging saat membeli. Daging dengan kandungan air yang banyak cenderung berwarna lebih pucat. Teksturnya juga lebih lembek dibandingkan daging dengan kadar air cukup. Untuk menyiasatinya, biasanya pedagang meletakkan daging sapi itu di meja. Tidak digantung seperti biasanya. ‘’Tidak berani digantung, karena berair nanti kelihatan kalau menetes,’’ pungkasnya. (mg4/bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here