Kawah Candradimuka

249
Marsekal TNI Widyargo Ikoputra, S.E., M.M (Komandan Lanud Iswahjudi)

LANUD Iswahjudi dulu bernama Lanud Maospati. Ada sejarah panjang pangkalan yang didesain oleh Belanda tahun 1939 melalui Departemen Van Oorlog (DVO). Saat itu dipergunakan untuk keperluan Militaire Luchvaart Dienst (MLD). Pangkalan ini dioperasikan untuk menghadapi Jepang dalam Perang Pasifik.

Sedang saat pecah Perang Dunia II digunakan Jepang untuk merebut kedudukan negara-negara Barat di Kawasan Asia. Pada Perang Kemerdekaan I dan II, pangkalan udara Maospati atau dikenal dengan Iswahjudi tidak luput dari serangan pesawat pesawat Belanda. Begitu pula saat muncul pemberontakan PKI Muso tanggal 18 September 1948, Pangkalan Iswahjudi juga menjadi sasaran aksi kaum pemberontakan.

Dan setelah Indonesia Merdeka sejak tahun 1960 hingga tahun 1970-an Pangkalan Udara Iswahjudi berperan dalam operasi pembebasan Irian Barat, Oprasi Dwikora, Operasi Seroja. Itu sejak diperpanjang landasan  pesawat-pesawat pengebom berat dan jenis jet mendarat di pangkalan ini.

Menurut sejarah  Lanud Iswahjudi mempunyai peran yang besar dalam mengukir sejarah TNI AU maupun TNI pada umumnya. Pada awal tahun 1970-an Indonesia membeli pesawat Sabre F 86 melalui operasi yang dinamakan Indonesia bangkit. Dilanjutkan T-33, Bird, F5, MK 53 dan terakhir F 16 tahun 1990 hingga sekarang dijuluki home base bagi pesawat tempur.

Lanud Iswahjudi yang hingga sekarang memiliki Tiga Skadron Udara masing masing Skadud 3 dengan pesawatnya, F-16 Fighting Falcon, Skadud 14 dengan pesawatnya F5 yang sekarang sedang menunggu penggantinya dan Skadud 15 dengan pesawatnya T-50i Golden Eagle.

Lanud Iswahjudi sampai sekarang tercatat sebagai satu-satunya di Indonesia yang murni merupakan pangkalan militer. Sehingga tidak ada pengelolaan yang dipekerjakan dengan orang sipil. Selain karena Lanud Iswahjudi ini didesain pangkalan militer juga karena posisi strategis pangkalan ini bila ditinjau dari geografis dan geologis. Serta perangkat lainnya.

Sejak awal menjabat, saya menyampaikan rasa bangga menjadi bagian dari Lanud Iswahjudi. Karena siapapun penerbang tempur, pastilah  pernah merasakan godokan penerbang lembah Lawu. Saya ingin berharap lebih jauh untuk menjadikan Lanud Iswahjudi sebagai kawah candradimukanya perang udara.

Menurut saya ini bukan mimpi karena semua tahu bahwa Lanud Iswahjudi mempunyai sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebagai tempat menjalankan skenario perang udara.

Dari segi geografis lanud Iswahjudi yang terletak di antara Gunung Lawu dan Wilis mempunyai faktor keamanan alamiah. Bila ditinjau dari ketahanan pangkalan, daerah yang berbukit-bukit dan merupakan lembah dapat menjadi wahana untuk kamuflase dari keberadaan pangkalan dari pandangan musuh.

Cuaca yang pada pagi hari yang biasanya lebih sering mengeluarkan uap air dan pada siang hari sudah mendung memberikan perlindungan alam yang baik dari serangan musuh. Selain itu, ditinjau dari geologis Lanud Iswahjudi diapit oleh Pegunungan dan tampat muka berhadapan dengan lautan sehingga dapat dijadikan pintu masuk pergerakan pesawat.

Ditinjau dari segi sosial budaya masyarakat eks Karesidenan Madiun merupakan masyarakat petani. Sebagian warga masyarakat sekitar lanud Iswahjudi mengunakan Lahan lanud sebagai tempat mata pencaharian. Sehingga terjadi ikatan batin yang kuat antara masyarakat karesidenan madiun dengan Lanud iswahjudi.

Hal yang menarik dalam sebuah kajian adalah terpilihnya Lanud Iswahjudi sebagai penyelenggara berturut turut dengan melibatkan kekuatan besar dari seluruh pangkalan yang berada di Indonesia Tengah yaitu Koopsau II dengan nama Latihan Sikatan Daya. Sedangkan pada bulan berikutnya akan menyelenggarakan latihan puncak TNI AU dengan nama Angkasa Yudha 2019. Lanud Iswahjudi baru setelah sekian lama dipercaya menjadi salah satu Lanud Aju pesawat tempur seluruh Indonesia.

Hal-hal yang telah dilakukan dalam mewujudkan cita-cita itu antara lain; dengan Latihan yang bertingkat, berjenjang dan berkala. Saya yakin visi dan misi dapat terlaksana. Mewujudkan TNI AU yang perkasa tentunya harus didukung oleh SDM yang memadai. Sehingga dengan berbekal latihan, alutsista yang ada dan piranti lunak kita akan memberikan yang terbaik demi tanah air dan bangsa.

Antara materiil dan personel harus seiring sejalan. Tanpa berjalan seiring mustahil TNI yang perkasa dapat diwujudkan. Seperti juga disampaikan Kasau dalam mengawali tahun 2019 ini yang mengusung Motto “Profesional, Militan dan Inovatif”. Buat kami Motto yang disampaikan Kasau merupakan harapan yang hendak dicapai oleh TNI AU, sehingga kita wajib mendukungnya.

Profesional diartikan harus tegak lurus dengan pengabdian. Militan diartikan dalam bekerja semua anggota harus mencurahkan segala tenaga dan upayanya demi hasil yang optimal, sedangkan inovatif disini diartikan sebagai pencarian solusi baru dalam memecahkan permasalahan. Setiap anggota harus dapat berinovasi dalam memecahkan permasalahan, jangan  menyerah terhadap keadaan.

Sesuai dengan Tema HUT ke-73 TNI AU ’’Berlandaskan jiwa Profesional, Militan, Inovatif, dan Kemanunggalan Bersama Rakyat’’ TNI AU siap melaksanakan tugas matra udara dalam mendukung tugas pokok TNI.

Maka Lanud Iswahjudi juga berharap cita-cita yang sudah saya ikrarkan semoga dapat terwujud. Selain prasarat sebagai kawah candradimuka, hal yang tidak kalah pentingnya adalah satuan satuan yang ada di Lanud Iswahjudi ini merupakan kombinasi terlengkap yang ada dan bisa ditingkatkan kemudian hari. Seperti satuan Paskhas, Skatek 042, RS Efram Harsana, satuan POMAU, Pazam, sekolah bahasa, Depohar 20, Depohar 60, satuan radar, satuan intelijen, dan satuan satuan lain merupakan modal dasar yang kita miliki dalam mewujudkan kawah candradimuka perang udara.

Saya berharap di HUT ke-73 ini, selain tugas yang dibebankan kepada Lanud Iswahjudi sebagai tugas pokoknya, Lanud Iswahjudi bertugas menyiapkan, melaksanakan  pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan di bawahnya guna tercapainya tujuan secara optimal.

Sedangkan pembinaan terdiri dari pembinaan  materiil, operasi udara, pembinaan kesiapan operasional, pembinaan administrasi, pembinaan potensi dirgantara, penyelenggaraan intelijen udara, dan penyelenggaraan operasi udara sehari-hari, penyelenggaraan operasi udara (operasi militer perang dan operasi militer selain perang). Penyelenggaraan dukungan logistik operasi dan mengadakan koordinasi  serta kerjasama dengan instansi yang terkait semua nya dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.

Kita dalam mencapai profesionalitas melaksanakan pembinaan secara bertingkat, berjenjang dan berlanjut. Dimulai dari latihan perorangan (SAR/survival), latihan satuan (Elang Gesit), latihan tingkat Komando Operasi Angkatan Udara II (Sikatan Daya) dan tingkat Mabesau (Angkasa Yudha) sampai dengan latihan gabungan. Latihan ini semuanya bermuara kepada profesionalisme personel Angkatan Udara. Selain itu masih banyak latihan yang melibatkan Skadron Udara baik operasi yang bersifat rutin maupun sporadis. (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here