Kasus Suami Bunuh Istri, Begini Kata Psikiater

382

PONOROGO – Fakta terbunuhnya Is di tangan suaminya begitu mengiris hati. Masalah ekonomi memang acap menjadi penyulut pertengkaran rumah tangga. Namun, itu tetap tak bisa dijadikan alasan mengakhiri hidup seseorang. ‘’Kalau persoalannya adalah ekonomi, ya seharusnya dicari solusi. Setiap permasalahan pasti ada akarnya, itu yang harus diselesaikan,’’ kata psikiater dr Andri Nurdiyana Sp KJ.

Andri pun terkejut dengan berita terbunuhnya Is. Di balik peristiwa itu, rupanya banyak persoalan bertubi menghujam keluarga Is. Dia diketahui seorang diri banting tulang mencari nafkah untuk anaknya. Bahkan, si bungsu tak mampu mengikuti study tour lantaran tak punya biaya. Di tengah kesulitan-kesulitan itu, suaminya tak diketahui rimbanya. ‘’Suaminya ini bertanggung jawab tidak dengan keluarga? Sampai banyak utang begitu, apa tidak bekerja,’’ heran Andri.

Seharusnya, tegas Andri, suami bertanggung jawab menafkahi keluarga. Dalam kasus pembunuhan itu, persoalan tak semakin runyam jika di antara pasangan suami-istri (pasutri) terjalin komunikasi yang baik. Bersama-sama mencari solusi terbebas dari impitan ekonomi. ‘’Persoalan seperti ini bisa dicurhatkan ke orang lain, tidak disimpan sendiri,’’ ujarnya.

Nasi telanjur menjadi bubur. Persoalan yang semakin runyam berujung pada tewasnya istri yang sejauh ini diketahui oleh mesin pemotong keramik tersebut. Dalam hal ini, polisi perlu memastikan apakah pembunuhan tersebut suatu bentuk kesengajaan. Atau, akibat dari cekcok dan pikiran pendek si pelaku. ‘’Pelakunya juga perlu diperiksakan ke psikiater. Apakah membunuh dengan sadar atau tidak. Kalau memang sadar dan sudah direncanakan sebelumnya, ya patut dihukum berat,’’ tegasnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here