Kasus Santri Keracunan, Polisi Periksa Petani Melon Langganan Pondok

346

MADIUN – Polisi menguak fakta baru di balik dugaan keracunan masal puluhan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam di Desa Mojorejo, Kebonsari. Melon yang dikonsumsi Jumat malam (8/2) terdiri dua jenis. Selain membeli dari petani setempat, hidangan pencuci mulut itu juga langsung dipetik dari kebun. ‘’Kalau yang beli itu disediakan dari pengurus. Sedangkan petik itu dari santri,’’ kata Kapolsek Kebonsari AKP Sumarji kemarin (10/2).

Fakta itu dikantongi polisi setelah menggali keterangan dari berbagai pihak. Pengurus ponpes membeli satu karung melon dari petani yang lokasi kebunnya di sekitar lingkungan ponpes. Namun, hidangan pencuci mulut yang belum dikupas itu tersisa banyak. Sementara beberapa santri malah mengaku mengonsumsi melon hasil petikan dari kebun tanpa sepengetahuan pengurus ponpes. Setelah kegiatan makan malam bersama itu selesai. ‘’Mereka curi-curi kesempatan,’’ ujarnya.

Polisi juga telah memintai keterangan petani terkait. Dalam pemeriksaan, petani membantah jika melon yang dijualnya mengandung zat berbahaya. Kendati, dalam beberapa kasus, ada praktik menyuntik obat-obatan tertentu agar panen buah lebih bagus. ‘’Melon itu hanya disemprot fungisida untuk memusnahkan jamur. Tak berbahaya bagi pengonsumsinya,’’ jelas Sumarji.

Di sisi lain, tidak sedikit santri yang jadi korban ternyata hanya menyantap soto ayam. Mereka tidak ikut menikmati hidangan buah pencuci mulut tersebut. Selain itu, tidak ada korban dari pihak pengasuh. Padahal mereka ikut makan bersama. Karenanya, Suwarji enggan menduga-duga pemicunya dari melon, soto, atau faktor lainnya. Pun, tidak ada yang janggal dari keterangan tukang masak soto. Pengakuan koki itu, soto dimasak seperti biasa. Ayam diambil dari peliharaan ponpes sendiri. Sedangkan sayuran sebagian dibeli dari pasar. Waktunya terbilang normal, dimulai pukul 14.00 hingga asar. ‘’Kami selesaikan dulu penyelidikan ini dan hasil lab sebelum mengambil kesimpulan,’’ tuturnya kepada Radar Mejayan.

Informasi dari pengurus ponpes masih dinanti sebagai pelengkap keterangan. Polisi perlu waktu karena kiai berada di luar daerah. ‘’Rencananya akan minta keterangan dari salah seorang pengurus senior,’’ terang kapolsek.

Polisi ikut penasaran dengan soto ayam dan melon yang disantap puluhan santri ponpes. Korps baju cokelat meminta bantuan tim uji laboratorium dari Ponorogo untuk meneliti kandungan makanan yang diduga biang sakit perut masal tersebut. Padahal dinas kesehatan (dinkes) setempat telah melakukan hal serupa. ‘’Langkah ini juga bagian penyelidikan,’’ ujarnya.

Sumarji menjelaskan, keputusan itu bukan atas dasar tidak percaya dengan uji lab dinkes yang meminta bantuan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Melainkan demi memperkuat data, sebelum mengambil kesimpulan kelak. Hasil uji lab lembaganya bakal dipadukan dengan dinkes. Tim peneliti dari Bumi Reyog itu diklaim cukup kompeten. Sehingga akurasi hasilnya diyakini tidak terlalu jauh berbeda. ‘’Bahan sampel yang diteliti kan juga sama,’’ tuturnya.

Sampel yang diserahkan ke tim uji lab itu adalah sisa nasi soto ayam, buah melon yang utuh dan sisa dikonsumsi, serta muntahan. Serah terima barang bukti (BB) dilakukan di Madiun kemarin. Sekaligus diminta meninjau lingkungan ponpes. Baik di dalam maupun luar kompleks pondok santri dan santriwati yang lokasinya terpisah. ‘’Kami minta cek lokasi. Barangkali, ada temuan yang mengarah ke penyebab kejadian,’’ katanya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here