Kasus Prostitusi Online: Penyidik Klarifikasi Manajer Kartika Abadi

184

MADIUN – Polisi terus berupaya menguak fakta baru dari jaringan prostitusi online yang dijalankan oleh Angga dan Cecep. Hingga kemarin (16/1) penyidik Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim Polres Madiun Kota mendalami materi terkait kasus prostitusi online itu. Terutama untuk mendalami jaringan penjaja perempuan tersebut.

Kasat Reskrim Polres Madiun Kota AKP Suharyono menyatakan, pihaknya terus mempelajari data-data yang mereka dapat. Termasuk data pelanggan dan jejaring perempuan panggilan yang mereka miliki. ’’Ketiga perempuan yang sempat diamankan statusnya saksi korban. Tapi, kami akan mintai keterangan kembali untuk mengembangkan jaringan prostitusi online yang baru saja diungkap. Apakah kemungkinan ada temuan baru,’’ katanya.

Sebelumnya, penyidik telah memanggil manajer Hotel Kartika Abadi di Jalan Pahlawan, tempat lokasi penggerebekan, untuk dimintai keterangan. Adapun pemanggilan bersifat klarifikasi. Seperti bagaimana prosedur menyewa kamar di hotel tersebut. Begitu juga apakah ada kaitannya dengan pihak manajemen hotel dengan praktik prostitusi online tersebut.

Pihak satpol PP juga berencana memanggil seluruh pengusaha atau manajer hotel di Kota Madiun. Pemanggilan bertujuan untuk pembinaan pasca terungkapnya praktik prostitusi online di Hotel Kartika Abadi. ’’Yang jelas, intensitas pengawasan terhadap hotel bakal ditingkatkan,’’ kata Kasatpol PP Sunardi Nurcahyono kepada Jawa Pos Radar Madiun saat ditemui di kompleks Balai Kota.

Kabid Perlindungan Perempuan dan Hak Anak Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PP dan PA) Kota Madiun Sri Marhaendra Datta mengaku sangat prihatin dengan adanya kasus prostitusi online tersebut. Kendati begitu, pihaknya memastikan bakal memberikan pendampingan kepada para perempuan yang terjaring saat penggerebekan oleh polisi. ‘’Karena ini menyangkut masalah hukum, tentu akan ada pendampingan. Apalagi status mereka adalah korban,’’ ujarnya.

Sebelum kasus prostitusi online itu terbongkar, persoalan yang sama pernah ditangani dinsos PP dan PA pada 2017 dan 2018. Saat itu pendampingan juga dilakukan oleh pihaknya. Termasuk memberikan pelayanan psikolog kepada perempuan yang menjadi korban. ‘’Biasanya kepolisian nanti akan memberikan surat kepada kami untuk dilakukan pendampingan bagi perempuan di bawah umur yang menjadi korban,’’ terang Marhaendra. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here