Kasus Keracunan Masal, Penyelidikan Sebatas Memastikan Penyebab

105

MADIUN – Polisi menepikan unsur pidana di balik dugaan keracunan masal santri Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Desa Mojorejo, Kebonsari. Selain tidak ada korban jiwa, kesimpulan sementara belum ditemukan unsur kesengajaan atas peristiwa usai menyantap nasi soto ayam dan melon, Jumat lalu (8/2). ‘’Sejauh ini belum ada indikasi menaruh zat beracun,’’ kata Kapolsek Kebonsari AKP Sumarji kemarin (12/2).

Hasil pendalaman keterangan dari petani dan koki, tak ditemukan motif kesengajaan. Keduanya jauh dari jeratan UU 18/2012 tentang Pangan. Satu karung melon sebagai kudapan pencuci mulut santri yang dipasok petani, misalnya. Selama proses pertumbuhan, buah tersebut hanya diberikan fungisida. Sekadar untuk membunuh jamur yang tidak berbahaya ketika buahnya dikonsumsi manusia. Artinya, tidak ada masalah atas buah yang dikonsumsi santri hasil mengambil melon di luar pilihan petani. ‘’Petani yang lahan kebunnya dekat ponpes itu sering menyediakan,’’ ujarnya.

Nihil kesengajaan juga datang dari koki yang biasa dipanggil mbok dapur oleh keluarga ponpes. Alasannya dia sudah terbiasa membuat masakan dan dikenal baik. Sangat kecil potensi melakukan hal tak diinginkan. Apalagi, dia dan pengasuh juga ikut mengonsumsi makanan dengan menu spesial seminggu sekali tersebut. Kendati puluhan santri sakit perut dalam rentang waktu hampir bersamaan mulai Sabtu dini hari (9/2). ‘’Perlu melihat hasil cek lab untuk memastikan ada tidaknya kandungan berbahaya sebelum jauh menyimpulkan unsur kesengajaan,’’ terangnya kepada Radar Mejayan.

Selain lemah jeratan UU pangan, juga tak bisa menyangkakan pasal 359 KUHP. Gugur dengan sendirinya karena faktanya tak ada korban jiwa. Sebanyak 60-an santri sebatas menjalani rawat inap dan jalan. kondisinya pun berangsur stabil dan diperbolehkan pulang. ‘’Kami tak bisa menjerat dengan alasan kelalaian,’’ tegasnya.

Penyelidikan sebatas mengetahui pemicu sakit masal tersebut. Karenanya, selain menggali keterangan, juga mendatangkan tim uji laboratorium untuk meneliti sampel soto ayam dan melon yang telah dikumpulkan. Tidak hanya sampel, tim asal Ponorogo itu juga mengecek lingkungan pesantren. Barangkali ada faktor lain memengaruhi. ‘’Kami masih menunggu hasilnya,’’ ujarnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here