Kasus Kematian Sulami: Keterangan Saksi Tidak Mengarah ke Pembunuhan

63

PONOROGO – Misteri kematian Sulami yang tewas dengan keadaan mengenaskan di teras rumah belum menemukan jalan terang. Dugaan kuat bunuh diri belum cukup bukti bagi polisi mengambil kesimpulan. Apalagi saat kejadian, Sulami berteriak minta tolong dengan keadaan mengenaskan. Berlumuran darah dan isi perut terburai.

Karena itu, polisi tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan. Meskipun polisi telah mengantongi beberapa bukti yang mengarah kuat pada bunuh diri. Yakni luka di perut Sulami teratur. ’’Panjang luka 20 sentimeter, dalamnya lima sentimeter,’’ kata KBO Satreskrim Polres Ponorogo IPDA Hariadi.

Selain itu, polisi juga menemukan sprei tempat tidur di kamar Sulami tampak rapi. Polisi menilai jika ada aksi pembunuhan minimal sprei tersebut acak-acakan. Pertimbangan lain yaitu sebelumnya Sulami pernah melakukan percobaan bunuh diri dua kali. ’’Masih terus kami dalami, tim yang ke Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim juga baru tiba,’’ lanjutnya.

Dia mengungkapkan pihaknya masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Kediri. Pun hasil penyelidikan barang bukti yang dikirim ke Labfor Polda Jatim. Seperti pisau sepanjang 40 sentimeter, cincin yang dikenakan korban, celana dalam dan BH yang melekat di tubuh korban.

Dari hasil tersebut, polisi berharap mendapat petunjuk baru. Sementara itu, keterangan dari pada saksi telah dikantongi. Delapan saksi yang diperiksa tidak memberikan keterangan yang cukup mengarah pada dugaan pembunuhan. ’’Semua keterangan tidak ada yang mengarah ke situ,’’ ungkapnya.

Dia menambahkan termasuk hasil penyelidikan tiga handphone yang diamankan sebagai barang bukti. Dalam handphone tersebut, diketahui nomor Sulami menghubungi Supeno. Sesuai dengan keterangan para saksi, warga setempat yang menghubungi Supeno. Mengabarkan keadaan Sulami yang mengenaskan tersebut. ’’Itu atas permintaan ibunya menyuruh warga untuk menghubungi Supeno,’’ sambungnya.

Dia menjelaskan Supeno meninggalkan rumah Sulami usai Maghrib. Tidak berselang lama setelah Boyati, ibu Sulami pamit hendak mijat tetangga. Supeno tiba di Dolopo, Madiun sekitar pukul 19.30. Selanjutnya dia ngopi di salah satu warung bersama dua temannya. ‘’Sekitar pukul 21.30 barulah ada telpon tersebut,’’ tuturnya.

Mendapat kabar mencengangkan tentang istri sirinya, Supeno bergegas kembali ke rumah Sulami. Nahas, sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), Sulami tutup mata untuk selama-lamanya. ‘’Setelah itu Supeno juga kami mintai keterangan termasuk saksi lainnya,’’ imbuhnya.

Berdasarkan penuturan warga, saat kejadian tidak ada orang lain selain Sulami. Pun Sulami terkapar dengan bersimbah darah dan isi perut terburai. Polisi masih terus mengusut tuntas tentang misteri kematian Sulami. ‘’Jika ada perkembangan lebih lanjut kami informasikan. Sementara ini kami terus lakukan penyelidikan,’’ ucapnya. (mg7/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here