Mejayan

Kasus Kematian Covid-19 Libatkan Pasien Berumur

Tiga Lansia Tak Selamat

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Caruban – Satu lagi nyawa pasien positif Covid-19 di Kabupaten Madiun tidak terselamatkan. Adalah pasien ke-55, pria 59 tahun, warga Kelurahan Nglames, Kecamatan/Kabupaten Madiun, yang meninggal dunia Kamis (6/8).

Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 setempat baru memperoleh laporan konfirmasi positif pedagang Pasar Nglames itu sehari berselang atau Jumat (7/8). ‘’Saat meninggal berstatus suspect,’’ kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Madiun Mashudi Minggu (9/8).

Meninggalnya pasien berinisial DK itu membuat kasus kematian Covid-19 di kabupaten ini menjadi tiga. Kasus pertama perempuan 64 tahun warga Desa Pagotan, Geger, yang meninggal 18 Juli. Dua belas hari berselang atau 30 Juli muncul kasus kedua. Masih di desa yang sama dengan korbannya perempuan 65 tahun.

Mashudi mengatakan, tiga pasien yang meninggal itu semuanya lanjut usia (lansia). Berkaca kasus kematian DK, warga diminta waspada terhadap orang tanpa gejala (OTG). ‘’Awalnya, (DK) membesuk pasien bukan Covid-19 di salah satu rumah sakit di Kota Madiun pada 28 Juli. Sehari setelahnya, dia mual dan muntah-muntah,’’ ungkapnya.

Sebetulnya, hasil rapid test di salah satu rumah sakit Kota Madiun menunjukkan nonreaktif. Hasil rontgen juga normal dalam pemeriksaan 31 Juli itu. Namun, petugas medis memutuskan untuk rawat inap. Setelah tiga hari opname, DK dirujuk ke RSUD Dolopo.

Hasil pemeriksaan uji cepat berubah menjadi reaktif. Pasien lantas masuk ruang isolasi. Swab test dilakukan 3 Agustus. ‘’Kondisinya sempat membaik 5 Agustus pagi. Tapi, siangnya lemas dan meninggal 6 Agustus pagi,’’ papar mantan camat Dolopo tersebut sembari menyebut DK telah dimakamkan di pemakaman desa tempat tinggalnya sesuai protokol penanganan Covid-19.

Sementara, total 56 kasus positif dan 14 suspect per kemarin petang. ‘’Yang masih dalam perawatan 14 pasien,’’ sebut Mashudi. (den/c1/cor)

Dua Warga Nglames Reaktif

BUNTUT seorang pedagang positif Covid-19 meninggal dunia, area Pasar Nglames Lama dan Baru di-lockdown hingga sepekan ke depan. Pintu masuk kedua pasar yang lokasinya bersebelahan itu digembok.

Kawasan pasar rakyat itu haram dimasuki, terutama anak-anak dan lanjut usia (lansia). Peringatan tersebut disampaikan lewat spanduk yang dibentangkan di bangunan depan masing-masing pasar. ‘’Ditutup sejak Sabtu siang (8/8),’’ kata Sriatun, salah seorang pedagang Pasar Nglames Baru, Minggu (9/8).

Sriatun mengungkapkan, kabar seorang pedagang terinfeksi korona membuat pedagang lainnya takut berjualan. Karenanya, keputusan pemkab mengarantina sementara waktu lingkungan pasar disetujui. ‘’Saya dan teman-teman berjualan di luar area pasar. Tapi, tetap saja tidak ada pembeli,’’ paparnya.

Warga di sekitar Pasar Nglames tidak kalah waswas. Pasalnya, pedagang positif yang meninggal itu tinggal di Kelurahan Nglames, dekat pasar. ‘’Sebelum tahu kabar positif, petugas BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red) sudah melakukan penyemprotan disinfektan di rumah (pasien yang meninggal). Karena itu, warga langsung antisipasi,’’ kata Budi Santoso, warga setempat.

Budi mengungkapkan, warga melakukan penyemprotan disinfektan rumahnya masing-masing secara mandiri. Juga tidak berkomunikasi langsung dengan keluarga pasien. ‘’Kelurahan melarang warga takziah terlebih dahulu untuk mencegah terpapar virus,’’ terangnya.

Orang-orang yang punya riwayat berinteraksi dengan pasien mengikuti uji cepat Covid-19 Sabtu. Seperti tetangga dan pedagang pasar. Hasilnya, dua orang reaktif. Warga satu RT dan beda RT namun kiosnya bersebelahan dengan pasien. Keduanya lantas melakukan karantina mandiri. ‘’Keperluan dan kebutuhan selama karantina dibantu para tetangga,’’ ungkapnya.

Pemkab berencana menggelar rapid test lanjutan besok (11/8). Jalan menuju tempat tinggal pasien juga ditutup oleh warga. ‘’Ketika mendapat kabar, langsung dilakukan penutupan,’’ kata Budi.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun Amam Santosa membenarkan adanya rapid test masal menindaklanjuti kematian pasien ke-55. Pemeriksaannya menyasar 131 orang. ‘’Ada dua yang reaktif, kami sarankan isolasi mandiri,’’ ujarnya. (mg4/den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close