Kasihan, Puluhan Calon TKI Jadi Korban Penipuan

268

PONOROGO – Keinginan 40 calon tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Ponorogo untuk bekerja di luar negeri harus pupus. Pasalnya, mereka justru menjadi korban dugaan penipuan oleh sebuah penyalur jasa TKI yang beralamat di Desa Mrican, Jenangan.

Seperti yang dialami Dian Purnomo, calon TKI asal Desa Paringan, Jenangan, itu gagal berangkat ke Korsel oleh perusahaan penyalurnya. Padahal, dia telah memenuhi ketentuan administrasi, termasuk pembayaran uang yang dimintakan sejak tiga tahun lalu. Karena merasa sudah tertipu, dia bersama calon TKI lainnya melaporkan kasus yang dialaminya itu ke Sat Reskrim Polres Ponorogo, Senin (24/9).

Informasi yang dihimpun, awalnya Dian mendapat tawaran lowongan kerja untuk mengisi posisi sebagai buruh di sebuah pabrik di Korea Selatan. Saat itu juga, Dian datang dengan membawa lamaran kerja seperti biasanya ke biro penyalur jasa TKI tersebut.

Pria 28 tahun itu kemudian dimintai uang sebesar Rp 30 juta untuk biaya administrasi. Seperti untuk pembuatan visa dan paspor. ‘’Kami bayarnya beragam. Antara sekitar Rp 32 juta hingga Rp 38 juta. Tapi, rata-rata sekitar Rp 30 jutaan,’’ ujarnya saat ditemui di Mapolres Ponorogo.

Dian menjelaskan, dia melamar untuk menjadi TKI di Korea Selatan pada 2015 lalu. Pembayaran uang administrasi dibayarkan secara diangsur. Setelah semuanya lunas, pihak penyalur berjanji akan memberangkatkannya ke Korsel secepatnya. ‘’Katanya langsung kerja dan tahun depan (2016, Red) diberangkatkan,’’ tuturnya.

Namun, tepat satu tahun kemudian, Dian tidak juga diberangkatkan oleh perusahaan penyalur. Dia pun menunggu hingga beberapa hari, tapi tetap tidak ada kejelasan. ‘’Saya beserta calon TKI lainnya kemudian mendatangi kantor penyalur jasa itu untuk meminta uang kami dikembalikan,’’ ungkapnya.

Sesuai dengan perjanjian yang disepakati antara pihak penyalur dengan calon tenaga kerja, perusahaan akan mengembalikan uang calon tenaga kerja secara utuh. Namun, setelah lewat dari satu tahun bahkan sampai saat ini, uang itu tidak juga dikembalikan oleh penyalur. Hingga akhirnya dia melaporkan kasus ini ke Mapolres Ponorogo.

Kasus serupa juga dialami oleh Sunaini. Warga Desa Prayungan, Sawoo, itu juga gagal diberangkatkan ke Korsel kendati sudah membayar Rp 30 juta kepada pihak penyalur pada 2015 lalu. Kemarin dia juga ikut melaporkan kasus dugaan penipuan itu ke penyidik Sat Reskrim Polres Ponorogo dengan membawa sejumlah barang bukti berupa kuitansi pembayaran dan dokumen administrasi pendaftaran. ‘’Sebelumnya saya sudah berusaha meminta uangnya kembali ke pihak penyalur. Tapi, baru sekitar Rp 5 juta yang dikembalikan. Mereka berjanji sisanya akan dikembalikan secepatnya,’’ beber Sunaini.

Nasib serupa juga dialami Wahyudi. Warga Desa Mrican, Jenangan, itu sudah menyetor Rp 14 juta sebagai syarat untuk magang ke Korsel. Kemudian oleh pihak penyalur dia dijanjikan diberangkatkan paling cepat enam bulan dan paling lama satu tahun sejak proses pembayaran lunas. ‘’Saat itu mereka menjanjikan juga, kalau tidak jadi diberangkatkan, uang akan dikembalikan. Tapi, sampai dengan tiga tahun belum ada kejelasan,’’ terangnya.

Sebelumnya, Wahyudi mengaku sempat mendatangi kantor penyalur jasa TKI itu di Desa Mrican untuk dimintai pertanggungjawaban. Termasuk menanyakan sejauh mana proses pengembalian uangnya dapat terealisasi. ‘’Tapi, ternyata tidak ada iktikad baik dari pihak penyalur untuk mengembalikan uang kami. Sehingga, kami memilih untuk melaporkan kasus ini ke polisi,’’ ujarnya.

Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Maryoko belum bisa memberikan penjelasan secara langsung terkait dugaan penipuan sebuah jasa penyalur TKI yang dilaporkan oleh calon TKI tersebut. Dia mengaku saat ini sedang ada di Surabaya untuk mengikuti kegiatan di Mapolda Jatim. (her/c1/rif)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here