Kasihan, Bayi Usia Sebulan Itu Harus Minum Susu dengan Slang

323

MAGETAN – Arini Dyah Mulyani tampak tertidur pulas di pangkuan ibunya, Fatimah Suyanti. Tangannya yang masih dibalut sarung tangan beberapa kali tampak mengusap wajahnya. Fatimah bersama mertua dan tetangga yang menengoknya asyik bercerita. Arini masih tertidur pulas. Tampak sebuah slang menggantung di dahinya. Ada katup berwarna hijau sebagai penutupnya. Slang itu menuju mulutnya. ’’Ini untuk memberi susu. Tidak bisa minum langsung,’’ kata Fatimah.

Tangisnya tiba–tiba pecah. Mata kanannya yang sedari tadi menutup, terbuka lebar. Segera Fatimah menyerahkan bayi yang lahir 1 Desember 2018 itu kepada mertuanya, Jimah. Fatimah berlari mengambil botol susu. Susu itu dimasukkan dalam alat suntik. Kemudian disuntikkan ke dalam slang yang sudah menggantung di dahi Arini. Dua kali susu itu disuntikkan. ‘’Kalau tidak begini tidak bisa kenyang,’’ kata perempuan 21 tahun itu.

Lima hari sekali, slang yang langsung menuju lambung itu harus diganti. Fatimah membawa putri kecilnya itu ke klinik dekat rumahnya. Semula, dia harus ke RSUD Sayidiman untuk menggantinya. Banyak kendala untuk sampai di sana. Mulai kendaraan hingga harus antre. Hingga pihak rumah sakit menyarankan agar ditangani di klinik saja. ’’Maksimal tujuh hari sekali harus diganti slangnya,’’ jelasnya.

Arini memang tidak seberuntung bayi–bayi lainnya. Sejak lahir dia menderita bibir sumbing berat. Itu membuat hidungnya lebih naik ke atas. Bahkan, mata kirinya hingga tertarik dan tidak dapat melihat. Jelas saja, kondisi Arini itu membuat Fatimah dan sang suami Mardani shock. Namun, itu tak lantas membuat kasih sayangnya kepada putri semata wayangnya itu luntur. ’’Anak kan rezeki. Harus disyukuri,’’ ujar warga Desa Gulun, RT 9 RW 2, Kecamatan Maospati, Magetan, itu.

Tak ada firasat apa pun sebelum sang jabang bayi itu dilahirkan. Bahkan, Fatimah masih sempat membantu sang suami yang setiap harinya membuat genting. Fatimah ingat betul, hari itu pukul 08.00 dia masih membantu Mardani mengangkat genting. Tiba-tiba air ketubannya pecah. Dia panik. Keluarga membawanya ke RSUD Sayidiman. Pukul 17.00 dia diberikan obat perangsang agar si jabang bayi segera lahir. ’’Lahirnya pukul 22.10, normal,’’ bebernya.

Arini lahir dengan berat 2,4 kilogram dengan panjang 54 sentimeter. Namun, kelahiran Arini tidak saat usia kandungannya sembilan bulan. Melainkan tujuh bulan lebih. Tapi, saat itu tangisannya sangat kencang. Sehingga Fatimah tidak menyangka jika putri pertamanya itu lahir dalam kondisi bibir sumbing. ‘’Saat mengandung tidak ada hal aneh. Hanya mual–mual seperti ibu hamil lain,’’ ungkapnya.

Meski menerima apa adanya kondisi sang buah hati, Fatimah tetap berusaha agar kondisi wajah anaknya bisa diperbaiki. Sayang, kondisi keuangan keluarganya tidak memungkinkan untuk bisa mengoperasi Arini. Beruntung, yayasan dari ibu kota ada yang berbaik hati membiayai operasi. Rencananya, hari ini (3/1) Arini akan dibawa ke RSUD Moewardi Surakarta. ‘’Masih konsultasi dulu, operasi tidaknya tergantung sana,’’ jelasnya.

Berat badan Arini masih belum memungkinkan untuk dibaringkan di meja operasi. Baru bertambah dua ons. Kini baru 2,6 kilogram. Semula, pihak RSUD Soedono yang mendapat rujukan RSUD Sayidiman Magetan memprediksi Arini baru bisa dioperasi ketika berusia tiga bulan. Namun, besar harapan Fatimah agar Arini dioperasi secepatnya. Maklum saja, akibat bibir sumbing itu, mata kiri Arini tidak bisa melihat. ‘’Karena tertarik. Kami juga ingin konsultasi ke spesialis mata,’’ katanya. (bel/ota/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here