Ngawi

Kasek-2 Guru Terpapar, SMADA Ngawi Di-lockdown

NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Kekhawatiran Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Ngawi soal munculnya klaster sekolah akhirnya menjadi kenyataan. Beberapa guru, termasuk kepala SMAN 2 (Smada) Ngawi, dinyatakan terpapar virus korona. ‘’Hal seperti ini yang paling kami takutkan sejak awal,’’ kata Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ngawi Budi ’’Kanang’’ Sulistyono Minggu (20/9).

Selain kepala Smada Ngawi, ada dua guru sekolah tersebut yang terkonfirmasi positif Covid-19. ‘’Kalau tempo hari jadi kami izinkan untuk uji coba pembelajaran tatap muka kan kasihan,’’ ujar bupati dua periode itu.

Setelah sejumlah guru dan kasek terpapar korona, pihaknya langsung meminta Smada Ngawi di-lockdown. Semua guru maupun karyawannya wajib melakukan isolasi. Pihaknya juga sudah meminta tim surveilans melakukan tracing kasus tersebut. ‘’Harus dicari sumbernya dari mana, sampai ketemu,’’ tegasnya.

Kanang juga mengatakan bahwa kasus Covid-19 di Ngawi semakin mengerikan bak bola salju yang semakin hari semakin membesar. Karena itu, dia meminta seluruh warga Bumi Orek-Orek lebih berhati-hati. ‘’Kami juga akan pertegas lagi soal aturan protokol kesehatan (prokes). Sekarang yang melanggar dikenai sanksi denda rupiah,’’ imbuhnya.

Sementara, grafik kasus Covid-19 di Ngawi terus mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir. Data terbaru yang dirilis dinas kesehatan (dinkes) setempat, warga yang terpapar mencapai 126 orang. Bersamaan itu Bumi Orek-Orek kembali berstatus zona oranye.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Ngawi drg Endah Pratiwi mengungkapkan, peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 itu disebabkan menurunnya kepatuhan masyarakat menerapkan prokes. ‘’Mulai sekarang (penerapan prokes) harus diperkuat lagi supaya kasusnya tidak terus meningkat,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Denda Prokes Naik 150 Persen

SANKSI denda Rp 10 ribu yang diterapkan bagi para pelanggar protokol kesehatan (prokes) dinilai kelewat kecil sehingga tidak menimbulkan efek jera. Karena itu, Pemkab Ngawi memutuskan menaikkan besaran denda menjadi Rp 25 ribu.

Kepala Satpol PP Ngawi Eko Heru Tjahjono mengungkapkan, kenaikan denda didasari hasil evaluasi operasi yustisi yang digelar tiga hari pada Selasa hingga Kamis pekan lalu. Selama itu, diketahui banyak warga yang tidak mengenakan masker saat berada di tempat umum. ‘’Sepertinya (denda Rp 10 ribu) belum bisa membuat jera,’’ ujarnya Minggu (20/9).

Heru mengatakan, kenaikan denda hingga 150 persen itu mulai diberlakukan saat operasi yustisi Jumat malam lalu (18/9). ‘’Kemungkinan masih bisa dinaikkan lagi, tergantung hasil evaluasinya seperti apa,’’ tuturnya.

Dalam operasi yustisi perdana malam itu petugas menjaring sebanyak 36 pelanggar. Setelah menjalani sidang di tempat, dua di antaranya enggan membayar denda dengan alasan tertentu. ‘’Yang tidak mau didenda harus menjalani sanksi subsider berupa kurungan selama sehari. Kami titipkan di (tahanan) Polres Ngawi,’’ ungkapnya.

Kapolres Ngawi AKBP Dicky Ario Yustisianto menyatakan, operasi yustisi kelak dimungkinkan menyasar wilayah pinggiran. Pun, pihaknya sudah berkomunikasi dengan pengadilan negeri (PN) maupun kejaksaan negeri (kejari) setempat terkait rencana tersebut. Terutama soal sidang yang akan digelar secara online. ‘’Sudah pasti, tapi waktunya kapan masih dibicarakan lagi,’’ ujarnya. (tif/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close