Karya Lukis Bakar Wahyu Tristianto Melanglang hingga Papua

171

Ketekunan mengantar Wahyu Tristianto menjadi perajin sekaligus seniman. Kesulitan mencari kerja mengantar perjumpaannya dengan papan kayu dan solder listrik. Gurat-gurat bakar hasil tarian tangannya banyak diminati anak muda.

——————–

AROMA gosong seketika menyeruak saat mendekati ruang kerja Wahyu Tristianto. Dari mulut pintu ruangan yang tidak berdaun itu, dia serius menggambar. Bukan kanvas yang dihadapinya. Bukan pula kuas digenggamnya. Melainkan sebuah solder listrik yang ujungnya ditempel-ayunkan ke permukaan sebidang papan kayu. ‘’Hari ini deadline, besok kirim,’’ kata Wahyu tanpa melepas solder di tangan kanannya.

Papan kayu berukuran 60×30 sentimeter itu bak menjadi lantai dansa ujung solder yang merah karena panas. Setiap kali Wahyu mengayunkan tangannya, asap keluar dari ujung solder dan papan yang sengaja diadu. Kalau sudah begitu, mulut Wahyu buru-buru nyoro, meniup bagian kayu yang baru saja dibakarnya dengan solder.

Beberapa saat berselang, gambar sepasang pengantin serta tulisan Happy Wedding rampung dibuatnya. ‘’Coba-coba buat inovasi. Lukisannya saya tambahi jam,’’ kata Wahyu sambil mencopot colokan solder.

Wahyu lantas beranjak dari ruang kerjanya. Sejumlah peranti lukisan bakar, termasuk ampelas, halus ditinggalkan. Dia menuju ruang tamu sarat kerajinan lukisan bakar. Ada gambar wajah saja. Ada juga gambar yang disertai detak jarum jam.

Modelnya pun beragam. Mulai yang berpigura kaca biasa sampai yang berbentuk rumah-rumahan. ‘’Limbah kayu jati itu bahannya,’’ kata warga Dusun Krajan Kulon, Desa/Kecamatan Sine, ini.

Bermodal kreatif dan kecakapan kedua lengannya, predikat perajin sekaligus seniman pantas disematkan kepada Wahyu. Bagaimana tidak, tahap-tahap pengerjaan dikerjakan sendiri secara manual. Dari menyiapkan papan kayu sampai membuat kilap karya yang telah jadi merupakan buah hasil ulah kreatifnya. ‘’Cari limbah kayunya ya dari dekat-dekat sini saja,’’ ungkap pria 29 tahun itu.

Sejak memulai beberapa tahun lalu, belasan solder telah dia habiskan untuk berseni-kerajinan. Awalnya Wahyu menggunakan solder 30 watt. Lantaran memerlukan banyak waktu, dia kini beralih ke ukuran 60 watt. Hal itu tidak lepas dari banyaknya garapan yang mesti dirampungkannya. ‘’Dulu sebenarnya iseng-iseng buat, lalu di-upload di medsos,’’ ujarnya.

Pertemuan Wahyu dengan solder dan papan kayu bermula dari sulitnya mendapatkan pekerjaan. Jebolan teknik mesin otomotif salah satu SMK di Ngawi ini sempat nganggur pascalulus pada 2007 silam. ‘’Penghasilan tidak pasti, tergantung pesanan. Alhamdulillah, lumayan kalau pas ramai,’’ ucapnya.

Pada awal-awal menekuni seni lukis bakar, Wahyu sekadar meladeni pesanan lukisan. Foto-foto yang dikirim pemesan ditransfer ke permukaan kayu dengan solder.

Mengantisipasi pasang-surut kecondongan minat pasar, suami Reti Nur Anggraini itu lantas menjajal sesuatu yang baru. Dia berinovasi menggabungkan lukisan bakar dan jam dinding. ‘’Sebelumnya saya sempat berpikir bagaimana kalau lukisan bakar sudah tidak diminati lagi. Akhirnya ketemu ide seperti ini,’’ paparnya.

Wahyu sekarang memasang banderol Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu untuk satu buah lukisan bakar plus jam dinding buatannya. Karyanya juga sudah melesat ke berbagai daerah. Wajah-wajah pemesan dari Sumatera, Maluku, sampai Papua, pernah dia gambar dengan solder di papan kayu. ‘’Yang banyak pesan itu cah enom untuk hadiah teman-temannya,’’ sebutnya.

Membuat lukisan bakar gampang-gampang susah. Wahyu kerap kesulitan menggambar sketsa di papan kayu menggunakan pensil sebelum dibakar dengan solder. ‘’Kadang foto yang dikirim kualitasnya kurang bagus, pecah saat di-zoom,’’ ungkap Wahyu. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here