Kartinian, Adu Kreasi Tumpeng Nasi Kuning

66

PONOROGOEmak-emak di Kelurahan Purbosuman menandai Hari Kartini dengan menggelar lomba tumpeng nasi kuning. Tak kurang dari 40 tumpeng beradu kreasi. Menjadi simbol doa dan harapan. ‘’Tumpeng memiliki akar tradisi kuat bagi orang Jawa,’’ terang Painem, penggerak PKK setempat.

Tumpeng biasanya dibuat untuk peringatan peristiwa penting, hari lahir, serta berbagai acara syukuran lainnya. Dengan menghadirkan tumpeng, peringatan hari Kartini diharapkan tidak berhenti dalam satu hari. ‘’Perempuan harus terus bergerak,’’ ungkapnya.

Sebelum dipurak, tumpeng dinilai terlebih dahulu oleh dewan juri. Selain tampilan, cita rasa yang utama. Lagu Indonesia Raya dan Ibu Kita Kartini pun dinyanyikan sebelum doa bersama. Anak-anak yang diajak pun bergegas mengeroyok nasi tumpeng. Senyum ceria terlihat sambil menikmati gurihnya nasi kuning. ‘’Semoga generasi di lingkungan kami dapat meneladani perjuangan Kartini,’’ harapnya.

Berakhirnya purak tumpeng menjadi simbol terbitnya harapan baru. Seperti surat-surat R.A. Kartini kepada sahabatnya J.H. Abendanon di Belanda. Kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku berbahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht. Dari kumpulan surat itu, Armin Pajne menyajikannya ke dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran 1922 silam. ‘’Kartini itu sosok yang religius,’’ imbuhnya. (mg7/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here