Ponorogo

Karena Seni Butuh Regenerasi

Oleh: Ipong Muchlissoni

Bupati Ponorogo

KESENIAN Reyog Ponorogo mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat luas. Tidak hanya dari dalam negeri, juga dari mancanegara. Lenggak-lenggok penari jathil seakan elok berpadu dengan gagahnya gerakan pembarong. Membuat siapa pun yang menonton sanggup berdecak kagum sembari ikut larut dalam rancaknya musik yang mengiringi. Sebuah seni dengan cerita yang epik, menurut banyak kalangan. Singkatnya, apresiasi masyarakat tinggi terhadap kesenian ini.

Dulu, saya sering menikmati pergelaran reyog obyok di Ponorogo. Waktu itu, tidak sulit jika kita ingin menyaksikan reyog. Di setiap perempatan, di setiap desa, reyog obyok ditampilkan. Tapi, seiring berjalannya waktu, reyog obyok semakin sulit ditemukan. Lantas, ke mana pergelaran itu sekarang?

Pemerintah menyadari, besarnya kesenian ini tidak akan ada artinya jika tidak ada upaya pelestarian. Lalu, ini tanggung jawab siapa? Upaya pelestarian terhadap kesenian asli Ponorogo ini ya menjadi tanggung jawab seluruh masyarakatnya. Event berskala internasional yang melibatkan kesenian reyog bahkan sudah setiap tahun digelar di Ponorogo. Tapi, itu saja tidaklah cukup.

Melestarikan kesenian tidak cukup dengan menggelar event besar. Tidak cukup pula dengan sebatas memiliki alat-alat yang memadai. Melestarikan kesenian haruslah dengan memainkannya. Supaya lahir pemain-pemain reyog yang baru. Pergelaran reyog obyok serentak di desa-desa yang telah digagas adalah cara untuk melestarikan kesenian ini. Untuk menghidupkan kembali reyog obyok yang telah lama tiada itu, Pemerintah Kabupaten Ponorogo mendorong seluruh desa untuk menggelarnya tanggal 11 di setiap bulan.

Lewat menggebyak reyog tiap tanggal 11 di setiap bulan, kami mengajak masyarakat untuk turut serta terlibat dalam pelestarian kesenian yang kita cintai ini. Supaya gaung reyog terus menggema di daerah asalnya. Supaya wisatawan juga tidak harus kesulitan mencari pertunjukan reyog di daerah asal kesenian itu sendiri.

Agar kesenian ini bisa lestari, butuh campur tangan masyarakat di seluruh desa secara swadaya. Pemerintah sejak lebih dari lima tahun lalu secara bertahap sudah memberikan bantuan kepada desa untuk membeli berbagai perangkat reyog yang dibutuhkan. Boleh jadi, sekarang hampir seluruh desa sudah pernah menerima bantuan tersebut.

Reyog obyok adalah ajang pembuktiannya. Ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban atas bantuan yang telah desa terima. Ayo gelar reyog obyok di desa secara swadaya. Berbagai alat kesenian yang sudah dimiliki tidak boleh dibiarkan teronggok begitu saja. Harus tumbuh penari-penari jathil, pewarok, atau pembarong dari desa-desa melalui ajang reyog obyok ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan peduli melestarikan kesenian yang kita cintai dan banggakan ini? Mari, bersama melestarikan Reyog Ponorogo dengan menggelar reyog obyok pada tanggal 11 setiap bulannya. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close