Masih Ada Harapan di Karangpatihan

75
TUNAGRAHITA BERKARYA: Semedi, warga Dusun Tanggungrejo, Desa Karangpatihan membuat keset dari kain perca.

Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, terbilang istimewa. Sebanyak 96 warganya tercatat tunagrahita. Berbagai program pemberdayaan berhasil mengentaskan mereka dari gelapnya hidup keterbelakangan mental.

————————

DILA RAHMATIKA, Jawa Pos Radar Ponorogo

DI sini masih ada harapan. Tulisan itu menggantung di atap. Pintu rumah itu terkunci. Bahan membuat keset dan kain perca menumpuk di halaman samping. Seorang gadis cilik berambut pendek sibuk menyapu pelataran. ‘’Mau foto-foto ya Mbak?  Bapaknya ke Malang,’’ kata Bunga Lestari.

Gadis itu menghampiri seraya merapikan potongan kain perca. Membantu Boinah, ibunya, memilah lembaran kain perca untuk kemudian dirangkai menggunakan cetakan khusus membuat keset dari kain perca, ‘’Ibu nggak bisa ngomong,’’ ujarnya.

Ya, kedua orang tua Bunga adalah peyandang disabilitas di Tanggungrejo, Balong. Jika ibunya kesulitan untuk berbicara, ayahnya masih bisa bercakap dengan terbata-bata. Ketika Radar Ponorogo mencoba berbincang dengan keduanya, mereka hanya tersenyum dan tetap melanjutkan membuat keset. ‘’Di sini kan banyak tunagrahitanya,’’ terang Bunga polos.

Di mata Bunga, tunagrahita adalah sebutan untuk orang yang tidak bisa banyak berbicara. Tak bisa banyak membantu. Kerjanya hanya bisa membuat keset. Itu tidak terlepas dari apa yang terjadi di lingkungan sekitar rumahnya. Yang dikenal dengan julukan kampung idiot. Namun, ketika ditanya, apakah orang tuanya termasuk tunagrahita, Bunga hanya menggeleng kepala. ‘’Tidak tahu,’’ ucapnya.

Sebelum berkutat dengan keset, Boinah dan Semedi banyak membantu Eko Mulyadi, lurah Desa Karangpatihan. Mulai dari membantu pekerjaan di sawah sampai urusan rumah tangga. Sedari 2013 silam, perlahan namun pasti, kedua orang tuanya mampu mendapatkan tambahan penghasilan dari berjualan keset. ’’Per lembarnya tujuh ribu,’’ katanya.

Pelajar kelas III SDN 2 Karang Patihan ini mengaku senang melihat ayah ibunya punya tambahan kesibukan yang menghasilkan. Bisa memberikan uang saku bagi Bunga Rp 2.000 per hari. Hanya, jam kerja membuat keset tidak menentu. Sehari, pasutri ini bisa membuat dua keset. ‘’Kadang-kadang bikin dari pagi sampai sore hingga malam. Kadang nggak bikin sama sekali,’’ bebernya.

Bocah sepuluh tahun ini juga memiliki pendapatan tambahan. Dari pengunjung rumah harapan lokal maupun mancanegara. Berkat rasa percaya diri dan keberanian yang dia miliki, Bunga kerap dipercaya tamu mengantar ke sejumlah rumah atau anggota keluarga yang  mengalami tunagrahita. Untuk beragam keperluan, menjadi tour guide cilik. Jika yang datang wartawan, dia ringan kaki mengantar ke rumah-rumah  penyandang disabilitas. ‘’Terus  dikasih uang. Besarannya macam-macam,’’ urainya.

Sehari-harinya, Bunga tinggal seatap dengan kedua orang tua. Dan, adiknya yang masih balita. Juga, kedua nenek dan kakeknya yang kerap membantunya memenuhi keperluan sekolah. ‘’Kalau nggak masuk sekolah dicari guru sampai ke rumah,’’ ungkapnya.

Bungsu dua bersaudara ini bercita-cita menjadi guru matematika atau bahasa Inggris. Sebab, dia suka pelajaran hitung-hitungan. Semasa di pendidikan anak usia dini (PAUD), dia juga mengagumi  gurunya yang lancar berbahasa asing, ‘’Di sini, pernah ada tamu dari Inggris. Kalau bisa bahasanya, bisa tanya-tanya,’’ pungkasnya. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here