AdvertorialMagetanPendidikan

Kang Woto Mengajar Gunakan Bahasa Inggris

MAGETAN – Trisula ideal dunia pendidikan. Bupati Magetan Suprawoto dulu tercatat sebagai dosen. Wabup Nanik Endang Rusminarti pernah menjadi guru SD. Sedangkan Sekda Bambang Trianto (BT) menjabat cukup lama sebagai nakhoda dinas pendidikan. Tak heran, ketiganya kompak memajukan pendidikan di Kabupaten Magetan.

Gebrakan yang dilakukan salah satunya me-launching Kampung Inggris di Kelurahan Kraton, Kecamatan Maospati, kemarin (2/5). Momentum itu bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019. Warga Magetan dan sekitarnya kini tak perlu jauh-jauh ke Kampung Inggris Pare, Kediri. Ada bangunan sekolah kosong yang dipersiapkan menunjang kegiatan Kampung Inggris Kraton. ’’Bisa dijadikan base camp anak-anak yang kesini. Mereka kan bisa dari berbagai tempat,’’ ujar Bupati Magetan Suprawoto.

Kang Woto – sapaan Suprawoto –  juga memberi kejutan saat momen Hardiknas dengan menjadi ’’guru’’ di SMPN 1 Maospati (Snesti). Bupati mengajar siswa kelas VIII . Bupati sengaja menggunakan Bahasa Inggris saat mengajar. Dia memotivasi para siswa berani menggunakan bahasa internasional itu. Belum lancar pun tidak apa-apa untuk latihan. Jika sudah terbiasa, maka bisa lancar dengan sendirinya layaknya native speaker. Sebab, kunci lancar berbahasa Inggris yakni dengan memperbanyak latihan. ’’Nah, di Kampung Inggris nanti juga seperti itu. Untuk daily conversation menggunakan bahasa Inggris,’’ terangnya.

Tak hanya dengan me-launching Kampung Inggris, pemkab berkomitmen menjadikan Magetan sebagai kota pendidikan. Magetan saat ini belum terlalu padat, sehingga menjadi peluang dijadikan kota pendidikan. Sehingga, Magetan bisa menjadi alternatif lain dalam mengenyam pendidikan. ’’Misalnya saja politeknik tidak harus di Madiun. Tapi, bisa juga yang berada di Magetan dengan membuka jurusan baru,’’ jelasnya.

Konsep seperti itu, kata Kang Woto, sudah diterapkan di negara-negara maju. Seperti Inggris, Jerman, dan Belanda. Hal itu bagus untuk pemerataan pendidikan. Sehingga, tidak terkonsentrasi di satu kampus. Itu juga bisa mendorong terbentuknya akademi komunitas yang hanya membutuhkan dua tahun pembelajaran. Jurusan bisa disesuiakan dengan potensi daerah. ’’Ini bagus untuk peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia),’’ katanya.

Pembangunan perguruan tinggi itu juga diharapkan bisa mengikis anggapan masyarakat kualitas pendidikan di kota besar lebih bagus. Dengan kemudahan akses informasi, pendidikan dimanapun kualitasnya sama. Anggapan kuno itu berlangsung pada tahun 1960-an. Dimana, masyarakat luar Jawa berbondong-bondong ke Jawa untuk sekolah. ‘’Universitas di mana saja kualitasnya sama. Teknologi sekarang sudah berkembang dan menyebar luas,’’ pungkasnya. (bel/adv/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close