Kanal Mancaan Meluap, Puluhan Rumah Tergenang, Anak-Anak Bolos Sekolah

204

MADIUN – Banjir di Desa Mancaan, Jiwan, membuat anak-anak terpaksa membolos sekolah kemarin (4/2). Sebab, luapan air dari kanal wilayah desa setempat Minggu malam (3/2) itu membuat buku dan seragam menjadi basah. ‘’Semuanya buku dan seragam anak saya tidak bisa dipakai,’’ kata Apriliana, salah seorang warga.

Apriliana menyebut, seragam dan buku bisa basah karena disimpan dalam lemari. Ketika air mulai masuk dan meninggi, dia tidak sempat mengamankannya. Bersamaan keluarganya dievakuasi petugas menggunakan perahu karet ke rumah tetangga yang steril genangan. Peralatan sekolah anaknya itu baru diketahui basah sekembalinya dari tempat ”pengungsian” keesokan pagi. ‘’Tidak masuk tapi sudah izin ke sekolah,’’ ujarnya.

Banjir menggenangi sekitar 50 rumah warga yang dihuni 285 keluarga tiga RT di Desa Mancaan. Tanggul kanal tidak mampu menampung tingginya debit air akibat guyuran hujan selama tiga jam sejak pukul 22.00. Air dari kanal bercampur lumpur pun meluap ke permukiman warga yang hanya berjarak sekitar enam meter. Aktivitas warga sekitar lumpuh karena kedalaman mencapai satu meter. Kendaraan bermotor tidak bisa melintas. ‘’Air mulai berangsur-angsur surut pukul 03.00 sampai 04.00,’’ ungkap Bambang Supriyono, korban banjir lainnya. 

Bambang bersama puluhan warga lain sibuk membersihkan sisa banjir yang masuk rumah sejak pukul 06.00. Mulai lumpur hingga sampah plastik dan dedaunan yang terbawa arus air. Banjir Minggu dini hari itu diklaim terparah dalam lima tahun terakhir. Sebelum-sebelumnya, luapan air dari kanal sebatas menggenangi jalan permukiman. Tidak sampai masuk dalam rumah. ‘’Kami harap pemkab menormalisasi kanal agar aliran airnya lancar,’’ harapnya seraya menyebut sedimentasi kanal cukup tinggi hingga ditumbuhi pepohonan dan berbagai tanaman lainnya.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun Suprijanto menyebut debit air tinggi karena hujan lebat di sejumlah kawasan sejak Minggu petang. Banjir tidak terhindarkan karena aliran air kanal tersumbat di beberapa jembatan. Sumbatan itu berupa sampah dan ranting bambu yang terbawa dari hulu. ‘’Tidak ada korban jiwa, hanya aktivitas warga terganggu,’’ ujarnya.

Suprijanto menyebut normalisasi perlu dibahas lebih lanjut dengan instansi terkait. Dalam waktu dekat lembaganya mengagendakan bersih-bersih sampah. Selain menghindari banjir terulang, juga mencegah kerusakan fondasi jembatan. ‘’Khawatir kalau sampai fondasinya tergerus,’’ katanya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here