Kaki Palsu Jadi Harta Paling Berharga

97

JALANAN Dusun Sambirobyong, Desa Klitik, Geneng, Selasa siang (1/5) begitu lengang. Tak banyak kendaraan yang melintas di jalan rabat baru itu. Jalannya tak begitu lebar, sekitar tiga meter. Saat memasuki dusun yang berjarak sekitar dua kilometer dari pusat pemerintahan desa (pemdes) Klitik itu pemandangan kontras di kanan dan kiri jalan begitu nyata. Di satu sisi permukiman penduduk, sisi lainnya merupakan hamparan sawah yang menghijau luas.

Tak begitu sulit untuk menemukan rumah Yuyut Estiawan, pelajar  Ngawi yang hanya memiliki satu kaki lantaran mengalami cacat sejak lahir itu. Dari wilayah Ngawi Kota, hanya perlu menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit dengan mengambil arah Maospati. Lagi pula nama Yuyut sudah tidak asing lagi bagi warga di dusunnya. Hampir semua warga mengenali remaja yang kini bersekolah di MTsN 3 Ngawi itu.

Siang kemarin, tak banyak aktivitas yang dilakukan Yuyut. Memang, di luar jam sekolah remaja yang kelahiran Ngawi 6 Mei 2004 itu menghabiskan waktunya dengan bermain di sekitar rumah. Namun, jangan dibayangkan bermain yang dimaksud selayaknya remaja seumurannya. Di mana kebanyakan dari mereka masih suka bersepeda dan main sepak bola. Bagi Yuyut, bermain hanya di sekitar rumahnya, tanpa teman dan keramaian. ’’Kadang ada teman yang datang kesini, tapi jarang,’’ ujarnya saat ditemui Radar Ngawi kemarin.

Yuyut memang tidak seperti remaja lain seumurannya. Hal itu tidak lain karena disebabkan kondisi fisik bungsu dari tiga bersaudara  ini yang kurang sempurna. Sejak lahir, Yuyut sudah mengalami cacat pada kaki kanannya. Di mana kaki kanan Yuyut hanya separo saja yang normal. Dari pangkal paha hingga lutut. Dengan kondisi seperti itu membuat aktivitas Yuyut tak bisa seperti kebanyakan remaja lain. ’’Kalau jalan ya terpaksa jongkok atau engkling (berjingkat, Red),’’ jelasnya menjawab rasa penasaran wartawan koran ini.

Jalan seperti itu sudah dilakukan Yuyut sejak kecil. Karena kondisinya itu, dulu Yuyut hampir tidak mau sekolah. Yang jelas, dia pasti merasa malu dengan teman-temannya. Meskipun sebenarnya dalam hati Yuyut saat itu ingin masuk SD. Begitu juga kedua orang tuanya, yang merasa kasihan jika anaknya terpaksa tidak sekolah hanya gara-gara kakinya tidak sempurna. Bahkan Tuminem, sang ibu terpaksa menunggui Yuyut mulai dari berangkat hingga pulang. ’’Awal-awal saja, setelah kelas II sudah tidak ditunggui lagi,’’ ujar Yuyut diamini ibunya.

Maklum saja, kala itu orang tua Yuyut juga harus bekerja. Apalagi keluarga Yuyut termasuk keluarga kurang beruntung. Tidak ada harta lain yang mereka miliki kecuali rumah berdinding kayu dan anyaman bambu itu. Tanpa dilengkapi fasilitas lengkap layaknya rumah sehat lain. Muhadi  bekerja sebagai penjual bakso keliling. Tapi belakangan sudah berhenti lantaran usianya yang sudah tua. Sebenarnya Yuyut memiliki dua orang saudara. Tapi nasib mereka tak jauh beda dengan orangtuanya. ’’Kakak saya yang satu kerja di toko, satunya kerja bangunan,’’ ujarnya.

Nasib memang belum berpihak kepada mereka. Kedua kakak Yuyut hanya bisa menempuh pendidikan hingga SMP. Alasannya sama, tidak ada biaya untuk menyekolahkan lebih tinggi. Karena itu, Yuyut sebenarnya menjadi harapan bagi Muhadi dan Tuminem. Keduanya ingin si bungsu bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Usaha apapun selama ini sudah dilakukan untuk mewujudkan harapan bersama keluarga Muhadi itu. Bukan hanya untuk biaya sekolah, tapi juga memenuhi kebutuhan Yuyut. ‘’Pas kelas VI saya dapat bantuan kaki palsu ini,’’ ujarnya sembari menunjukkan kaki palsu yang masih terbalut kaus kaki dan sepatu.

Bagi Yuyut maupun kedua orangtuanya, kaki palsu itu sangatlah berarti. Tanpa itu, kemungkinan Yuyut tidak akan melanjutkan sekolahnya hingga SMP. Karena itu dia benar-benar menjaga kaki palsu itu selayaknya kaki asli. Dia hanya menggunakannya ketika pergi sekolah. Bahkan sekarang Yuyut rela mengurangi makannya dengan alasan agar tetap bisa menggunakan kaki palsu itu. Itu dia lakukan tidak lain agar kaki palsu itu tetap muat seiring tubuhnya yang semakin berkembang. ‘’Sekarang sudah agak sesak, tapi masih muat,’’ jelasnya.

Setelah lulus SD, Yuyut melanjutkan sekolah ke MTs Negeri 3 Ngawi. Jika dihitung, jarak rumah ke sekolahnya saat ini sekitar lima kilometer lebih. Untuk pulang pergi sekolah Yuyut biasanya naik sepeda pancal hingga jalan raya. Lalu, dia menggunakan jasa angkutan umum hingga ke sekolahnya. Siswa kelas X MTsN 3 Ngawi ini mengaku tidak kuat jika harus bersepeda hingga sekolah. Yuyut juga tidak pernah absen sekolah, kecuali pas sedang sakit dan terpaksa tidak bisa masuk. ’’Kalau di sekolah ya biasa saja. Tapi pas pelajaran olahraga saya hanya bisa lihat, tidak bisa ikut,’’ ungkapnya.

Semangat Yuyut untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginyanya memang tidak diragukan. Dia tidak pernah mengeluh meskipun kondisinya serba kekurangan. Setelah lulus Mts nanti, dia bercita-cita untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Harapannya memang bisa masuk ke sekolah negeri. SMAN 2 Ngawi misalnya yang jarak dari rumahnya paling dekat. Di samping itu kualitasnya juga pasti lebih baik. Tapi saat ditanya hal itu, Yuyut hanya bisa tersenyum. ’’Di manapun sekolahnya tidak masalah asalkan bisa dibebaskan biayanya,’’ ungkapnya.

Yuyut mengaku tak ingin menyusahkan kedua orang tuanya terus menerus. Maklum saja, dengan penghasilan kedua orang tuanya yang pas-pasan, bahkan tidak menentu itu membuat dia tidak akan pilih-pilih sekolah. Dia akan senang jika ada yang membebaskan biaya pendidikan. Misalnya sekolah Yuyut saat ini yang hanya membayar biaya masuk dan keperluan buku saja. Begitu juga di SMA nanti, dia tidak ingin pilih-pilih. ’’Yang penting bisa sekolah,’’ ujarnya.

Kelak, Yuyut berharap bisa menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Cita-citanya ingin menjadi guru. Yuyut sadar, dengan kondisinya yang kekurangan itu tidak mungkin melakukan pekerjaan berat. Karena itu harapannya dia ingin menjadi anak yang pandai, yang mengenyam pendidikan tinggi. Sehingga kelak tidak hanya nasibnya yang bisa berubah, tapi juga bisa membalas semua perjuangan kedua orangtuanya yang sudah bersusah payah mengupayakan yang terbaik untuk hidupnya sekarang. (tif/ota)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here