Kakek 87 Tahun Ini Sudah Hasilkan Ratusan Karya Lukisan Klasikisme

96

KALENDET bergambar pewayangan menempel pada dinding sebuah rumah di Desa Sempol, Maospati. Di sebelahnya ada poster Presiden RI ke-5, Megawati Soekarno Putri dan wakil presiden kesembilan, Hamzah Haz. Selain itu, ada gambar lainnya yang pewarnaannya sudah luntur.

Sementara di sudut rumah, terdapat perkakas untuk melukis. Seperti kuas, cat dan kanvas. Di sebelahnya lagi ada sebuah buku gambar. Isinya gambar-gambar tokoh pewayangan dan presiden pertama RI, Ir Soekarno. ‘’Saya memang suka menggambar dan melukis sampai sekarang,’’ kata Sadikun, si empu rumah kepada Jawa Pos Radar Magetan.

Di usianya yang tak lagi muda, Sadikun memang mencurahkan sebagian hidupnya untuk melukis. Dia sudah menekuni dunia seni lukis nyaris setengah abad. Karyanya juga sudah berjumlah ratusan. Bahkan, dulu sebagian karyanya banyak dicari orang. Seperti tokoh pewayangan dan pahlawan nasional. Sadikun mengaku mengusung aliran klasikisme dalam setiap karya lukisannya. ‘’Sejak usia 15 tahun sudah menekuni seni lukis,’’ ungkapnya.

Yang bikin terenyuh, kakek 87 tahun itu hidup sebatang kara. Istrinya sudah meninggal dua dekade silam. Di rumah reot yang beralaskan tanah. Dia bertahan hidup dengan mencari kayu. Sesekali dari lukisan hasil karyanya yang dibeli orang.

Sadikun secara ekonomi memang tergolong kurang mampu. Namun, dia masih sempat memikirkan kondisi sekeliling tempat tinggalnya di Desa Sompal, Maospati. Dia bahkan sering meluangkan waktunya untuk menunjukkan teknik menggambar yang dikuasainya kepada anak-anak di sekitar lingkungan rumah.

Sempat dia diminta oleh anaknya untuk pindah. Tapi, Sadikun menolak. Dia lebih memilih bertahan di rumah tua tersebut. Alasannya, karena banyak kenangan yang tidak bisa ditinggalkan. Terlebih rumah itu dibangun dari hasil jerih payahnya melukis sekitar 20 tahun lalu.

Beruntung derajat Sadikun sedikit terangkat seiring upaya pemkab mendaftarkannya sebagai calon penerima manfaat bantuan program swadaya. Seperti orang pada umumnya, Sadikun merasa terharu. Tapi, itu semua tetap tidak bisa mempengaruhi kecintaannya terhadap dunia seni lukis. ‘’Kalau tidak ada kanvas untuk melukis, biasanya saya gunakan banner (reklame) sebagai kanvas,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan sebuah karya lukisan tidak bisa diukur dari berapa tinggi harga jualnya. Namun, sejauh mana karya lukisan itu bisa memotivasi kreativitas seseorang untuk terus berimprovisasi. ‘’Karena sifat dasar seseorang bisa diukur dari hal-hal yang di keluarkan oleh orang itu sendiri. Sehingga akan muncul karakteristik bawaan setiap orang,’’ ungkap Sadikun. ***(reska pradana/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here