Kades Dawung Tersangka Kasus Korupsi Sewa Tanah Kas Desa

313

NGAWI – Kasus dugaan korupsi yang melibatkan kepala Desa (kades) Dawung dan pungutan liar (pungli) di Pasar Hewan Ngawi akhirnya menyeret tiga orang menjadi tersangka. ‘’Berkas sudah dinyatakan P-21 (lengkap, Red) dan kami siap mengirim tersangka berikut barang bukti ke kejaksaan,’’ kata Kapolres Ngawi AKBP Pranatal Hutajulu kemarin (28/1).

Natal –sapaan Pranatal Hutajulu- menjelaskan, ketiga tersangka itu adalah kades dan perangkat Dawung: Agus Wawan Sulistyanto dan Kadimun; serta oknum PNS Dinas Perdagangan Perindustrian dan Tenaga Kerja (DPPTK) Ngawi bernama Nur Lailiah.

Agus, lanjut Natal, diduga menilep uang negara sekitar Rp 153 juta. Duit tersebut merupakan hasil penyewaan tanah kas desa. ‘’Kasus ini terjadi pada 2013. Modusnya, tersangka AWS memerintahkan perangkatnya untuk menyewakan tanah khas desa,’’ ujar Natal.

Kongkalikong antara kades dan oknum perangkat desa setempat pun terjadi. Agus memerintahkan Kadimun –perangkat desa– menyewakan tanah bengkok selama enam tahun. Namun, duit hasil sewa senilai Rp 153.435.000 tidak masuk ke rekening kas desa pada tahun anggaran 2014.

Duit hasil sewa bengkok, lanjut Natal, dibagi dua. Kades mengantongi Rp 123.435.000, sementara Kadimun kebagian Rp 30 juta. ‘’Uang yang mestinya masuk PADes itu digunakan dua tersangka untuk kepentingan pribadi,’’ tutur Natal.

Natal mengungkapkan, kedua tersangka melanggar pasal 2 subsider pasal 3 subsider pasal 8 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 55 KUHP. Perbuatan Agus dan Kadimun bertentangan dengan Permendagri 37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa serta Perbup 21/2008 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. ‘’Untuk kasus ini (korupsi tanah bengkok, Red) belum dilakukan penahanan,’’ terangnya.

Kendati barang bukti sama, kata dia, pemberkasan Agus dan Kadimun dilakukan terpisah alias splitzing. Di antaranya, satu lembar fotokopi perjanjian lahan, sebuah buku tabungan rekening kas desa, dan satu lembar kuitansi penyerahan uang.

‘’Untuk tersangka AWS, kami masih berkoordinasi dengan pihak kejaksaan untuk pelimpahan tahap dua. Sedangkan tersangka yang satunya (Kadimun, Red) masih dalam proses penyidikan,’’ ungkapnya.

Lain cerita dengan Nur Lailiah. Oknum PNS DPPTK Ngawi tersebut telah ditahan kemarin. ‘’Saudari NL telah melakukan pungli di Pasar Hewan Ngawi. Atas praktik yang dilakukannya, negara mengalami kerugian sebesar Rp 4.800.000,’’ beber Natal.

Nur Lailiah yang merupakan bendahara UPT Pasar Hewan Ngawi itu diduga menyelewengkan dana retribusi untuk kepentingan pribadi. Modusnya, menarik uang retribusi terhadap pedagang sapi tanpa menyertakan karcis. Apes, ulahnya terendus polisi hingga perempuan 42 tahun itu kena operasi tangkap tangan (OTT) pada 10 Februari 2017. ‘’Tersangka sudah melakukan praktik tersebut beberapa kali,’’ pungkas Natal. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here