Juwanto Takjub Antusiasme Warga dan Pemandangan Srambang Park

92

Kiprah Juwanto di dunia balap sepeda tidak perlu dipertanyakan lagi. Nyaris setiap penjuru nusantara telah dijajaki cyclist asal Semarang itu. Pada Srambang KOM Chalenge 2018 kemarin, Juwanto berhasil menyabet gelar King of Mountain (KOM) kategori road bike open up 40.

JUWANTO mendapatkan kepuasan komplet pada gelaran Srambang KOM Challenge 2018. Lehernya berkalung medali dan berhasil berdiri di podium tertinggi. Dia merajai kategori road bike open up 40. Raut semringah jelas terpahat pada wajahnya yang payah seusai menaklukkan tanjakan. ’’Luar biasa event kali ini,’’ kata Juwanto kepada Radar Ngawi.

Berhasil menyabet gelar KOM merupakan bagian kecil kepuasan bagi Juwanto. Itu merupakan bonus atas hobinya meluncur di atas sepeda balap. Pria 41 tahun asal Kelurahan Sendangguwo, Tembalang, Semarang, itu merasa teristimewakan selama menempuh rute tak kurang dari 52 kilometer. Antusias masyarakat di sepanjang rute memberikan rasa puas tersendiri baginya. ’’Pemandangan alam yang ada di Srambang Park juga tak kalah memberikan kejutan, mantap pokoknya,’’ ujar Juwanto.

Sorak sorai sejumlah pelajar di beberapa titik rute race turut menyulut semangat suami Enny Rochmawati ini. Capek yang dirasakannya akibat mengayuh pedal serasa hilang seketika saat memandangi antusiasme bocah-bocah berseragam yang waktu itu menonton balapan. Juwanto merasa tenaganya kembali terisi mendapatkan perhatian demikian. ’’Tanjakan-tanjakan yang menantang, semakin komplet dengan kehadiran mereka,’’ tuturnya.

Jiwa petarung ayah dua anak ini tak perlu diragukan. Juwanto tak mau ketinggalan ambil bagian event gelaran Jawa Pos Radar Madiun bersama pemkab. Dia tidak pernah absen mulai kali pertama event balap sepeda digelar. Dia juga kerap menyandang predikat KOM. ’’Bagi saya, rute melalui permukiman warga dengan antusiasme mereka menjadi poin plus event tahun ini,’’ ungkapnya.

Nyaris tiap penjuru nusantara telah dijajakinya dengan roda sepeda. Belakangan, Juwanto sempat melawat ke Jayapura mendatangi event menyambut PON 2020. Kawasan Samosir, Sumatera Utara, juga pernah dijelajahinya dengan sepeda. Untuk wilayah Indonesia bagian tengah, Juwanto menyebut Manado sebagai kawasan yang tak ketinggalan disambangi dengan lejitan di atas dua roda sepeda balap. ’’Aktifnya warga di sepanjang rute benar-benar memberi semangat. Saya merasa kalau kehadiran para cyclist juga memberi hiburan kepada mereka. Jelas beda rasanya kalau ikut event di daerah yang jauh dari permukiman warga,’’ paparnya.

Juwanto ibarat lupa dengan rasa lelah saat turun lintasan Srambang KOM Challenge 2018. Lagi-lagi, lantaran antusiasme warga yang menonton balapan. Saking gemasnya dengan keramahan masyarakat Ngawi, Juwanto sempat meninggalkan Specialized S Works Peter Sagan Edition miliknya untuk sekadar menyapa warga. ’’Saat istirahat di SD kemarin itu, saya dekati beberapa warga yang nonton balapan. Foto dengan ibu-ibu. Luar biasa pokoknya,’’ ucapnya terkekeh.

Prestasi di dunia balap sepeda bisa dibilang amat lekat dengan Juwanto. Kendati begitu, pria yang kesehariannya sebagai mekanik di salah satu toko sepeda di Semarang ini mengawali kiprahnya dari hobi. Dia mulai aktif balapan sepeda saat berusia 37 tahun. Namun, dua kaki Juwanto tak luput dari pedal sedari kecil. ’’Saya asli dari Cepu. Awal melancong ke Semarang, saya masih naik sepeda kayuh untuk bekerja,’’ tuturnya.

Juwanto masih ingat betul onthel yang dikayuhnya semasa muda. Mulai SMP sampai SMA, berangkat-pulang sekolah dengan bersepeda. Jarak tempuh kisaran 20 kilometer mesti dilaluinya pulang-pergi saban hari. Bagian punggung yang basah lantaran keringat masih lekat di ingatannya. Pun, berbasah-basah ria bersama sebaya saat turun hujan. ‘’Sejak kecil sudah terbiasa mancal sepeda. Lama-kelamaan jadi hobi dan keterusan sampai sekarang,’’ pungkasnya. (deni kurniawan/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here