Jumlah Desa Terdampak Membengkak

112

PACITAN – Bencana kekeringan belum mau pergi dari Kota 1001 Goa. Alih-alih berkurang, jumlah desa terdampak justru terus bertambah. Saat ini desa yang mengajukan dropping air bersih ke BPBD setempat menembus 42. Angka itu jauh di atas tahun lalu yang hanya 28. ‘’Prediksi kami meleset lagi, dari delapan kecamatan jadi 12, jumlah desanya juga bertambah,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Pacitan Windarto kemarin (21/10).

Windarto menyebut, dampak kemarau tahun ini terbilang parah. Indikasinya, desa-desa yang pada 2017 lalu ‘’aman’’, tahun ini mengalami krisis air bersih. Pun, sepekan terakhir, ada tambahan 10 desa yang mengajukan permintaan dropping ke BPBD. “Sebelum mendapat kiriman, kami lakukan survei terlebih dahulu ke lokasi,’’ ujarnya.

Diakuinya, banyaknya desa yang mengajukan permintaan air bersih membuat pihaknya kelimpungan. Pasalnya, jumlah armada untuk dropping terbatas. Itu pula yang memaksa pengiriman dijadwal ulang dari tiga menjadi empat hari sekali. ‘’Kami harapkan warga bersabar (mendapat dropping, Red),’’ tuturnya.

Meski begitu, dia mengklaim lima unit truk tangki yang dimiliki BPBD masih mencukupi. Pasalnya, penyaluran bantuan air bersih instansi terkait lainnya seperti PDAM dan dinas pekerjaan umum (PU).

Dia mengatakan, desa yang mengalami krisis air bersih paling banyak di wilayah Kecamatan Kebonangung, yakni delapan. Disusul Ngadirojo, Pringkuku, Punung, dan Donorojo masing-masing empat. Kemudian, Kecamatan Pacitan tiga desa yaitu Sambong, Tambakrejo, dan Ponggok. ‘’Paling sedikit Bandar, hanya satu desa,’’ ujarnya.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan air baku, sejumlah warga terpaksa memanfaatkan air sungai. Beberapa desa di Kebonagung, misalnya, menggunakan air kali di tepi jalur lintas selatan untuk mandi dan mencuci hingga memasak dan minum.

Perjuangan lebih berat harus dilalui warga Desa Klesem. Mereka mesti menuruni bukit untuk mencapai sumber mata air. (mg6/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here